get app
inews
Aa Text
Read Next : SMK Binusa Semarang Luncurkan Smart Card, Mudahkan Siswa Absensi hingga Jajan di Kantin

Sejarah Dugderan di Semarang: Tradisi Perpaduan Budaya Jawa, Tionghoa dan Arab jelang Ramadhan

Rabu, 26 Februari 2025 | 06:01 WIB
header img
Tradisi Dugderan digelar setiap menjelang datangnya bulan suci Ramadan di Kota Semarang. (foto Ahmad Antoni)

SEMARANG, iNewsSemarang.id Sejarah Dugderan di Semarang menarik diulas. Dugderan merupakan tradisi yang digelar tiap menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Sejarah tradisi Dugderan merupakan cerminan perpaduan budaya tiga etnis yang mendominasi masyarakat Semarang yakni etnis Jawa, Tionghoa dan Arab. 

Nama “Dugderan” berasal dari kata “dugder” yang berasal dari kata “dug” (bunyi bedug yang ditabuh) dan “der” (bunyi tembakan meriam). Bunyi “dug” dan “der” sebagai pertanda akan datangnya awal Ramadan. 

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, sejarah dugderan diperkirakan mulai berlangsung sejak tahun 1881 ketika Semarang dipimpin oleh Bupati RMTA Purbaningrat. 

Munculnya tradisi Dugderan ini dilatarbelakangi adanya perbedaan pendapat dalam masyarakat terkait awal dimulainya puasa pada bulan suci Ramadan. 

Atas dasar itulah muncul kesepakatan untuk menyamakan persepsi masyarakat dalam menentukan awal Ramadan yakni dengan menabuh beduk di Masjid Agung Kauman dan meriam di halaman kabupaten dan dibunyikan masing-masing tiga kali dan dilanjutkan dengan pengumuman awal puasa di masjid.

Editor : Ahmad Antoni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut