Kisah Pilu Sulastri Korban Banjir Bandang Pemalang, Suami Meninggal usai Selamatkan 2 Anak
PEMALANG, iNewsSemarang.id – Kisah pilu datang dari korban terdampak banjir bandang yang menerjang Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.
Banjir bandang yang menerjang pada Sabtu (24/1/2026) dini hari tidak hanya menghancurkan permukiman, namun juga telah memisahkan pasangan suami istri dalam insiden memilukan.
Tanto (32) ditemukan meninggal dunia setelah terseret arus sejauh 10 kilometer. Sementara sang istri, Sulastri (27), berhasil selamat namun kini harus berjuang sendirian menghidupi kedua anaknya di pengungsian.
Sebelum banjir lumpur, kayu, dan batu menerjang, Tanto seolah sudah memiliki firasat. Saat listrik padam sejak petang dan air sungai mulai meluap, Tanto bergegas menitipkan kedua anaknya, Fitriyani (9) dan Muhamad Davin (3), ke rumah kakek dan nenek mereka yang lokasinya lebih aman.
"Cucu dititipkan ke saya sebelum kejadian, sepertinya sudah ada firasat," ungkap Rasti, nenek korban dengan mata berkaca-kaca, Minggu (25/1/2026).
Nahas saat Tanto sedang memperbaiki genset untuk kandang ayam, tanggul sungai jebol. Banjir bandang menerjang rumah mereka dengan sangat cepat.
Detik-detik Mencekam Terseret Banjir Bandang
Sulastri menceritakan detik-detik mencekam saat rumahnya hancur. Ia dan suaminya sempat terseret arus deras yang bercampur material kayu dan batu. Di tengah kegelapan dan derasnya air, Sulastri terpisah dari genggaman suaminya.
Sulastri berhasil menyelamatkan diri meski mengalami luka-luka, namun Tanto hilang ditelan arus. Jasad Tanto baru ditemukan tim SAR Gabungan pada pagi harinya di titik yang berjarak 10 kilometer dari kediaman mereka.
Selain kehilangan nyawa kepala keluarga, Sulastri juga kehilangan seluruh harta bendanya. Usaha bengkel milik keluarga ludes disapu air. Tujuh sepeda motor pelanggan hanyut dan hilang, rumah hancur total diterjang material banjir dan perabot rumah tangga rusak parah.
"Kami belum tahu harus bagaimana dan sampai kapan tinggal di sini (pengungsian). Rumah dan bengkel semua sudah habis," ungkap Sulastri saat ditemui di pengungsian Kantor Kecamatan Pulosari.
Banjir bandang di Desa Penakir mengakibatkan sedikitnya 10 rumah warga hanyut terbawa arus dan puluhan lainnya rusak berat. Hingga Minggu (25/1/2026), sebanyak 630 warga masih bertahan di tiga titik pengungsian utama yakni di Kantor Kecamatan Pulosari, Gedung NU, dan masjid.
Para pengungsi mengaku masih trauma dan dilingkupi rasa takut akan adanya banjir susulan, mengingat intensitas hujan di wilayah lereng Gunung Slamet tersebut masih terpantau sangat tinggi.
Editor : Ahmad Antoni