Dokter Spesialis Bedah Saraf Sebut Tidak Semua Tumor Otak Berakhir Buruk, Ini Penjelasannya
SEMARANG, iNewsSemarang.id – Tumor otak adalah pertumbuhan jaringan abnormal di dalam otak, bisa jinak atau ganas. Namun tidak semua tumor otak berarti kanker.
Hal itu disampaikan oleh dokter spesialis bedah saraf SMC RS Telogorejo, Dr Muhammad Kamil PhD SpBS dalam acara seminar kesehatan bertema The Spark of Healthy Life di Auditorium SMC RS Telogorejo Semarang, Kamis (21/5/2026).
Dia menyebutkan gejala tumor yang perlu diwaspadai di antaranya sakit kepala yang semakin berat, kejang, gangguan bicara atau penglihatan, lemah anggota tubuh dan perubahan perilaku atau penurunan kesadaran.
Sebab itu, dokter Kamil mengingatkan banyak kasus gangguan saraf bisa ditangani lebih baik jika pasien segera melakukan pemeriksaan lebih awal ke rumah sakit.
“Teknologi medis saat ini juga sudah sangat membantu, mulai dari MRI, CT scan, hingga sistem navigasi operasi yang membuat tindakan lebih presisi,” kata dokter Kamil.
“Tidak semua tumor otak berakhir buruk. Penanganan modern memberi harapan baru,” tegasya.
Menurutnya, diagnosis dini menjadi kunci utama keberhasilan terapi pada kasus gangguan saraf, termasuk tumor otak.
“Penanganan lebih awal dapat meningkatkan peluang keberhasilan terapi, mengurangi risiko kerusakan saraf permanen, dan membantu menjaga kualitas hidup pasien,” ujarnya.
Dokter Spesialls Neurologi Subspesialls Neurorestorasi, dr Maria Belladonna Rahmawati Sugiarto MSi Med SpN (K) menyebutkan ada empat pilar utama dalam pencegahan gangguan saraf, yakni nutrisi, aktivitas fisik, tidur, dan pengelolaan pikiran atau manajemen stres.
"Dari sisi nutrisi, asupan makanan yang dianjurkan adalah yang kaya omega-3, antioksidan, dan vitamin B. Kandungan berperan dalam melindungi sel saraf serta menjaga fungsi otak tetap optimal,” kata dr Maria.
Selain itu, sebut dia, aktivitas fisik seperti olahraga aerobik selama 150 menit per minggu dapat meningkatkan aliran darah ke otak.

“Aktivitas tersebut juga bisa merangsang produksi BDNF (Brain Derived Neurotrophic Factor), yaitu hormon yang berperan dalam pertumbuhan dan perlindungan sel saraf,” ujarnya.
Kemudian, tidur berkualitas selama 7–9 jam per hari. Karena, tidur yang cukup membantu sistem limfatik otak bekerja membersihkan “sampah metabolik” serta mendukung pemulihan fungsi otak.
Selain itu, manajemen stres atau pengelolaan pikiran juga menjadi faktor penting. Stres yang tidak terkontrol dapat meningkatkan hormon kortisol yang berisiko menyebabkan penyusutan otak, sehingga perlu dikelola agar kesehatan saraf tetap terjaga.
“Penyakit saraf tidak hanya soal kondisi berat seperti tumor atau Parkinson, tetapi juga keluhan sehari-hari seperti sakit kepala, vertigo, hingga kesemutan yang sering dianggap sepele,” ungkap dr Maria.
“Gaya hidup tidak sehat, hipertensi, diabetes, obesitas, hingga kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko gangguan saraf,” ungkapnya.
Editor: Ahmad Antoni