Bakti Indonesia 2026, Ribuan Warga Nikmati Layanan Gratis Kesehatan hingga Bazar UMKM
SEMARANG, iNewsSemarang.id – Ribuan warga antusias menikmati layanan kesehatan gratis, donor darah, konsultasi psikologi, edukasi kesehatan, hingga bazar UMKM dalam kegiatan Bakti Indonesia 2026 di Kelenteng Sam Poo Kong, Kota Semarang.
Kegiatan sosial dalam rangka peringatan bulan Kemerdekaan Republik Indonesia yang digagas oleh Yayasan Bakti Keberagaman Indonesia diselenggarakan selama tiga hari, pada 6–8 Agustus 2026.
Ketua Umum Yayasan Bakti Keberagaman Indonesia, Mulia Jayaputri menjelaskan, kegiatan ini merupakan wujud memaknai kemerdekaan melalui aksi sosial dan kemanusiaan.
Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup diperingati melalui seremoni, tetapi juga diwujudkan dalam pelayanan yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Karena itu, Bakti Indonesia selalu digelar setiap Agustus, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Mulia menyebutkan, gerakan tersebut dibangun di atas tiga nilai utama, yakni merawat cinta Tanah Air, menghadirkan aksi kemanusiaan, serta menjaga keberagaman sebagai kekayaan bangsa.

"Bagi kami, kemerdekaan bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi memastikan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga hari ini," katanya, Sabtu (8/8/2026).
Kelenteng Agung Sam Poo Kong dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan Bakti Indonesia karena dinilai merepresentasikan wajah Indonesia yang majemuk. Tempat ibadah dan wisata ini mempunyai sejarah panjang sebagai ruang yang mengajarkan hidup berdampingan dalam keberagaman.
Lebih dari enam abad lalu, Laksamana Cheng Ho, seorang Muslim asal Tiongkok, singgah di lokasi tersebut. Dari persinggahan itu kemudian lahir sebuah tempat yang hingga kini dihormati umat Konghucu, Buddha, dan Tao. Sejarah tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan identitas dapat hidup dalam semangat saling menghormati.
"Bagi kami, Kelenteng Agung Sam Poo Kong bukan hanya situs sejarah. Tempat ini gambaran metafora Indonesia. Di sini kita belajar bahwa manusia boleh berbeda keyakinan, tetapi tetap bertemu dalam kebaikan," ujar Mulia Jayaputri yang juga Penggagas Bakti Indonesia,
Dia menambahkan, selama tiga hari pelaksanaan, masyarakat memperoleh berbagai layanan kesehatan secara gratis. Ratusan tenaga medis diterjunkan untuk melayani pemeriksaan darah, rekam jantung, pemeriksaan mata dan gigi, tes laboratorium, deteksi kanker, hingga pembagian ribuan paket vitamin sebagai upaya menjaga kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Di bidang kesehatan jiwa, Bakti Indonesia juga menghadirkan layanan konsultasi psikologi bagi individu maupun keluarga. Masyarakat juga dapat mengikuti berbagai talkshow mengenai kesehatan dan psikologi untuk meningkatkan literasi masyarakat.
Menurutnya, pelayanan yang diberikan bukan sekadar membantu masyarakat selama kegiatan berlangsung, tetapi juga diharapkan menumbuhkan kepedulian sosial.
"Kami ingin lewat pelayanan yang mereka terima selama Bakti Indonesia berlangsung membawa dampak kesadaran untuk merawat sesama. Menumbuhkan budaya tanggung jawab antarmanusia, karena kebersamaan akan hidup apabila diwujudkan dalam tindakan nyata," ujarnya.

Diketahui, Bakti Indonesia sendiri telah berpindah dari satu rumah ibadah ikonik ke rumah ibadah lainnya sebagai simbol persatuan bangsa. Pada 2023 kegiatan digelar di Masjid Istiqlal Jakarta, lalu berpindah ke Gereja Katedral Jakarta pada 2024, Pura Agung Besakih Bali pada 2025, dan tahun ini berlangsung di Kelenteng Agung Sam Poo Kong Semarang. Penyelenggara juga telah menetapkan Candi Borobudur sebagai lokasi penyelenggaraan Bakti Indonesia 2027.
Seiring perjalanan tersebut, makna gerakan ini juga terus berkembang. Jika pada tahun-tahun sebelumnya lebih menonjolkan kolaborasi lintas agama, kini Bakti Indonesia berkembang menjadi kolaborasi lintas berbagai elemen masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Bakti Indonesia ke-4, Jovita Navy Setyawati menambahkan, kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi serta dukungan lintas sektor yang semakin luas ini menjadi pertanda yang menggembirakan.
“Bahwasanya merawat keberagaman tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab satu agama, satu organisasi, atau satu kelompok saja, melainkan sebagai ikhtiar bersama untuk menjaga Indonesia tetap satu,” ujarnya.
Editor : Ahmad Antoni