Teatrikal Legenda Rawa Pening, Merawat Solidaritas dalam Balutan Gelar Budaya Kebon Dalem
SEMARANG, iNewsSemarang.id – Teatrikal legenda Rawa Pening mendapatkan sambutan antusias ribuan pengunjung dalam Gelar Budaya Kebon Dalem di SMA Kebon Dalem Semarang pada Sabtu (26/9/2026) malam.
Teatrikal yang melibatkan 80 murid TK, SD, SMP hingga SMA tampil apik dan penuh semangat dalam setiap gerak maupun adegan yang diiringi musik. Sementara sekitar 1.800 pengunjung larut dalam suasana perhelatan Gelar Budaya yang tahun ini mengusung Tempoe Doloe.
Selain teatrikal Rawa Pening, perhelatan Budaya Kebon Dalem yang ketiga ini juga menyuguhkan kuliner tempo dulu dan pertemuan lintas generasi dalam satu malam.

Acara memadukan panggung pertunjukan, bazar kuliner yang menampilkan penjaga rasa legendaris Semarang, dan ruang nostalgia yang menghadirkan kembali perjalanan Kebon Dalem dari masa ke masa.
“Ini menjadi puncak yang membahagiakan bagi kami yang telah dimulai dari latihan, geladi kotor, geladi bersih dan hari ini sungguh menjadi puncak bahwa anak-anak sangat maksimal melakukan kegiatan inix,” kata, Koordinator Kampus Kebon Dalem, Sr. Krista Yustina Susilawati.
“Mereka sungguh menghayati peran yang diberikan oleh mereka di setiap unit dari TK, SD, SMP, SMA dan rekan-rekan guru juga bersemangat dalam melayani dan mendukung mereka,” ujarnya.

Suster Krista mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan setiap kali evaluasi dalam mempersiapkan rangkaian acara dengan melihat mana yang kurang maupun yang lebih, dan yang utama adalah semua berkomunikasi dan berkolaburasi.
“Acara ini bisa berjalan dengan baik karena kerjasama, semua saling mendukung, saling melayani dengan baik dan maksimal. Yang membahagiakan dari lintas generasi semua bisa bekerja sama dengan baik. Anak-anaknya, guru-gurunya dan alumni itu sangat mendukung terutama alumni SMP SMA mereka sudah cukup berhasil,” jelasnya.
Dia menjelaskan bahwa makna di balik teatrikal legenda Rawa Pening adalah saling menghargai perbedaan. “Kita harus menghargai bahwa setiap orang berbeda, diciptakan oleh Tuhan berbeda, bagaimana kita menghargai perbedaan itu menjadi kesempatan untuk saling mengembangkan diri,” ujarnya.

Suster Kritas menambahkan, sekolah memang punya kegiatan setiap tahun untuk mengangkat budaya. “Tahun ini memang mengambil tema dari dulu dan sampai sekarang, agar budaya ini menjadi sarana untuk bisa menunjukkan anak-anak yang sekolah di Kebon Dalem mereka punya potensi yang perlu ditunjukkan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Editor: Ahmad Antoni