SLEMAN, iNewsSemarang.id – Dunia digital kini bukan hanya milik startup besar. Melalui semangat adaptasi, para petani salak di Dusun Nangsri, Desa Girikerto, Sleman, Yogyakarta, kini mulai go digital.
Hal itu berkat pelatihan intensif dari Dosen Kewirausahaan Universitas Widya Husada Semarang (UWHS) yang digelar di Dusun Nangsri.
Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM).
Dukuh Dwi Risti menekankan satu hal kunci pentingnya inovasi dan adaptasi teknologi digital sebagai booster pengembangan UMKM lokal.
Pelatihan ini tidak hanya berhenti pada teori. Narasumber membekali para petani dengan senjata digital paling mutakhir yang meliipuri strategi pemasaran digital.
Selanjutnya, memperkuat identitas produk olahan salak dengan branding Rasa Nangsri di berbagai platform media sosial. Perhitungan HPP (Harga Pokok Penjualan) Akurat, memastikan petani dapat menghitung untung secara cerdas dan strategis.
Para petani juga dibekali pemanfaatan E-Commerce, mendongkrak penjualan dan memperluas jangkauan pasar secara instan. Sentuhan kecerdasan buatan (AI). Memanfaatkan AI untuk menciptakan konten media sosial yang lebih menarik, efisien, dan tepat sasaran bagi produk olahan salak mereka.
“Cara membangun narasi yang kuat untuk merek UMKM, serta bagaimana menciptakan komunikasi yang persuasif dan konsisten dalam setiap kanal pemasaran digital merupakan komunikasi digital yang sangat perlu dimiliki oleh pelaku UMKM,” kata Nenden Nur Annisa, Ketua Program PKM dalam keterangan Selasa (9/12).
Para peserta yang sebagian besar adalah petani salak, menyambut antusiasme kegiatan ini. Diskusi aktif dan berbagi pengalaman membuktikan kesiapan mereka untuk naik kelas.
“Melalui pelatihan ini, produk olahan salak dari Nangsri diharapkan lebih siap menghadapi tantangan pasar digital, meningkatkan daya saing, dan menjamin keberlanjutan usaha mereka di masa depan,” ujarnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
