SEMARANG, iNewsSemarang.id - Ecoprint yang dikembangkan di Universitas Negeri Semarang (Unnes) tidak terbatas pada penggunaan daun dan bunga saja, melainkan memanfaatkan berbagai bagian tanaman termasuk ekstrak warna alami yang berasal dari kulit, daun dan akar tanaman.
Penegasan ini penting untuk menunjukkan bahwa ecoprint di Unnes berkembang sebagai inovasi yang menggabungkan kekayaan hayati lokal, eksplorasi zat warna alam, serta pendekatan ilmiah dan artistik dalam pengolahan tekstil ramah lingkungan.
Salah satu kekhasan ecoprint yang dikembangkan di Unnes adalah pola motif tulang daun, yang telah menjadi paten Unnes. Selain itu, disebutkan bahwa pelopor pengembangan ecoprint di Unnes adalah Dra. Widowati, M.Pd., yang telah berkontribusi besar dalam merintis dan mengembangkan inovasi ini.
Dalam kegiatan desiminasi kain ecoprint dan diservikasi berbasis tanaman lokal dan zat pewarna alam yang mempertemukan unsur akademisi, pemerintah, pelaku usaha, UMKM, organisasi masyarakat, dan peserta umum ini menempatkan ecoprint bukan sekadar sebagai karya seni tekstil, melainkan sebagai bagian dari penguatan ekonomi hijau, industri kreatif, pemberdayaan masyarakat dan hilirisasi potensi lokal.
Melalui forum tersebut, peserta diajak melihat bahwa ecoprint memiliki dimensi yang luas: sebagai produk budaya, produk inovasi, media pemberdayaan masyarakat, sekaligus peluang usaha yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Saribua Siahaan, S.Sos., M.H., M.M., selaku Director of Investment Promotion for Southeast Asia, Australia, New Zealand, and the Pacific pada Ministry of Investment and Downstream Industry/BKPM, menjelaskan , pentingnya melihat produk berbasis potensi lokal seperti ecoprint dalam kerangka pembangunan ekonomi yang lebih luas.
Dia menekankan bahwa ecoprint dapat dikaitkan dengan penguatan UMKM, industri kreatif, ekonomi hijau, dan hilirisasi berbasis sumber daya lokal.
"Dengan kekayaan biodiversitas Indonesia, produk seperti ecoprint memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi komoditas kreatif yang khas, bernilai tambah, dan berdaya saing," katanya dalam keterangan Jumat (24/4/2026)
Menurutnya, pengembangan ecoprint akan semakin kuat apabila tidak berhenti pada kegiatan pelatihan atau komunitas semata, tetapi diarahkan menjadi bagian dari ekosistem usaha yang lebih matang. Hal ini mencakup penguatan kualitas produk, pengembangan model bisnis, pembentukan jejaring pasar, peningkatan kapasitas usaha, dan keterhubungan dengan kebijakan promosi investasi maupun kemitraan yang lebih luas.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
