Almanzo juga menceritakan banyak pelajaran yang dipetik saat dia terlibat dalam kegiatan pecinta alam di SMA PL Don Bosko. Dia mengaku belajar banyak dan belajar bahwa untuk menuju ke puncak itu butuh perjuangan yang luar biasa dan tidak pernah ada yang menolong kita di dalam perjalanan.
“Tapi yang luar biasa adalah bahwa kita belajar bagaimana bertanggungjawab dengan diri kita dan teman-teman kita, bahwa ada tanggungjawab dan kesetiakawanan, di situ kita belajar melalui pecinta alam Don Bosko,” kata Almanzo.
Dalam kesempatan itu, dia juga menceritakan perjuangannya untuk kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dia mengaku sangat minim modal bahkan benar-benar di tepi jurang.
“Waktu masuk di IKJ modal saya pas-pasan banget, di tepi jurang banget lah pokoknya. Don Bosko juga mengajari hal penting bahwa kalau mungkin kita gagal di pelajaran tapi kita tidak boleh gagal menjadi manusia, itu satu hal yang Don Bosko tanamkan pada diri saya,” ujar Almanzo.
“Mungkin kita bodoh di sekolah atau bandel tapi kita tidak boleh gagal menjadi manusia. Hal yang penting juga ketika nanti adik-adik berjuang di luar sana setelah keluar dari Don Bosko hal yang paling penting adalah bahwa waktu kita masuk sekolah kita diminta untuk belajar, tapi waktu keluar kita diminta untuk mengabdi,” ujarnya.
Artinya, kata dia, kita mungkin dididik tak hanya menjadi juara kelas, tapi k dididik menjadi juara di kehidupan kita. “Itu yang harus kita pegang bahwa pengalaman akan membentuk kita, ada tanggungjawab yang diajarkan oleh sekolah, ada kesetiakawanan yang dibentuk dari pergaulan kita dan kita harus mampu menentukan nasib kita sendiri,” tegasnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
