JAKARTA, iNewsSemarang.id – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia yang mencapai 15,6 juta kasus hingga Agustus 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat kembali menggunakan masker, terutama saat beraktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, mengatakan penggunaan masker menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan polusi dan partikel berbahaya di udara.
"Kasus ISPA setiap tahunnya semakin meningkat dan terjadi sepanjang tahun, dimulai dari peralihan musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya," jelas Aji dalam keterangan resminya, Kamis (20/8/2026).
Sebab itu, Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada ketika kondisi udara sedang tidak sehat. Terlebih, kemarau panjang dapat membuat kualitas udara menurun, antara lain akibat debu, polusi, serta asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Salah satu polutan yang menjadi perhatian adalah PM2,5, yakni partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Kelompok Rentan Gangguan Kesehatan
Kemenkes mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika berada di luar ruangan dan kualitas udara sedang buruk. Langkah tersebut terutama penting bagi kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan kesehatan, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.
Selain memakai masker, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika tingkat polusi meningkat. Jika kondisi udara di luar memburuk, ventilasi juga dapat ditutup sementara untuk mengurangi masuknya polutan ke dalam rumah.
Masyarakat yang memiliki air purifier juga dapat menggunakannya untuk membantu menjaga kualitas udara di dalam ruangan.
Kasus ISPA di Indonesia Tembus 15,6 Juta, Pulau Jawa Tertinggi
Data Kemenkes menunjukkan jumlah kasus ISPA di Indonesia hingga Agustus 2026 mencapai 15,6 juta kasus. Angka ini sedikit meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai sekitar 15,4 juta kasus.
Provinsi-provinsi di Pulau Jawa tercatat menjadi wilayah dengan laporan kasus ISPA tertinggi. Namun, Kemenkes mengingatkan tingginya kasus ISPA tidak bisa seluruhnya dikaitkan dengan kemarau panjang.
“Daerah yang paling banyak melaporkan kasus ISPA adalah provinsi di Pulau Jawa. Namun, kita perlu hati-hati karena tidak semua kasus ISPA bisa langsung dikaitkan dengan kemarau panjang. Jadi kita terus pantau tren dan distribusinya,” kata Aji.
Selain itu, sebanyak 676.404 kunjungan pasien ISPA ke rumah sakit tercatat selama Januari hingga Juli 2026. Lebih lanjut, Kemenkes meminta masyarakat tidak menunggu sampai mengalami gangguan pernapasan untuk mulai melindungi diri dari paparan udara buruk.
Penggunaan masker, khususnya ketika kualitas udara menurun, menjadi salah satu langkah pencegahan yang dapat dilakukan. Masyarakat juga diminta menghindari asap rokok dan asap kendaraan serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang punya penyakit penyerta, harus lebih berhati-hati. Kita ingin pelayanan kesehatan tetap siap sebelum terjadi peningkatan kasus, bukan baru bertindak setelah rumah sakit penuh,” imbau Aji.
Dengan kasus ISPA yang telah menembus 15,6 juta, Kemenkes mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kualitas udara. Masker pun kembali dianjurkan sebagai perlindungan ketika harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang buruk.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
