Suster Krista mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan setiap kali evaluasi dalam mempersiapkan rangkaian acara dengan melihat mana yang kurang maupun yang lebih, dan yang utama adalah semua berkomunikasi dan berkolaburasi.
“Acara ini bisa berjalan dengan baik karena kerjasama, semua saling mendukung, saling melayani dengan baik dan maksimal. Yang membahagiakan dari lintas generasi semua bisa bekerja sama dengan baik. Anak-anaknya, guru-gurunya dan alumni itu sangat mendukung terutama alumni SMP SMA mereka sudah cukup berhasil,” jelasnya.
Dia menjelaskan bahwa makna di balik teatrikal legenda Rawa Pening adalah saling menghargai perbedaan. “Kita harus menghargai bahwa setiap orang berbeda, diciptakan oleh Tuhan berbeda, bagaimana kita menghargai perbedaan itu menjadi kesempatan untuk saling mengembangkan diri,” ujarnya.
Suster Kritas menambahkan, sekolah memang punya kegiatan setiap tahun untuk mengangkat budaya. “Tahun ini memang mengambil tema dari dulu dan sampai sekarang, agar budaya ini menjadi sarana untuk bisa menunjukkan anak-anak yang sekolah di Kebon Dalem mereka punya potensi yang perlu ditunjukkan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
