160 Hari Tanpa Hujan dan El Nino Berlanjut hingga Awal 2027, Cuaca Panas di Jateng Kian Menyengat

Riyan Rizky Roshali/Binti Mufarida
Ilustrasi El Nino capai level sangat kuat dan membuat musim hujan mundur. (Foto: Aldhi Chandra)


JAKARTA, iNewsSemarang.id – Cuaca panas masih akan dirasakan warga Jawa Tengah (Jateng) dalam beberapa bulan ke depan. Pasalnya, BMKG memprediksi fenomena El Nino masih bertahan hingga awal 2027. 

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Provinsi Jawa Tengah tidak diguyur hujan ekstrem selama berbulan-bulan, tepatnya selama 160 hari.

Namun demikian, BMKG mengatakan bahwa dampak El Nino diperkirakan berkurang seiring Indonesia masuk ke musim hujan.

“Walaupun El Nino akan bertahan sampai awal 2027, tapi dengan masuknya Indonesia ke musim hujan, maka dampak El Nino akan berkurang,” ungkap Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachry Ridjab kepada wartawan, Rabu (14/10/2026).

Dia menjelaskan, El Nino dan musim hujan merupakan dua fenomena berbeda yang saling mempengaruhi. Menurutnya, musim hujan tetap akan berlangsung di Indonesia, baik saat fenomena El Nino terjadi maupun tidak.

“Yang perlu kita pahami, El Nino dan musim (hujan) itu dua fenomena yang tidak sama gitu ya, tapi saling mempengaruhi. Musim kemarau, musim hujan akan selalu terjadi di Indonesia, ada atau tidaknya El Nino,” ujarnya.

Saat ini, BMKG mencatat sejumlah wilayah yakni Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara mulai memasuki musim hujan. Kondisi tersebut membuat dampak El Nino di kawasan itu diperkirakan tidak lagi signifikan.

BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan akan memasuki musim hujan pada November 2026, dengan intensitas curah hujan menengah hingga tinggi. 

Curah Hujan di Jateng Masih Relatif Rendah

Sementara itu, curah hujan di sejumlah titik di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi masih relatif rendah.

“Untuk Desember, sudah hampir sebagian besar wilayah Indonesia sudah warna hijau, artinya sudah curah hujan tinggi,” ujarnya.

Meski demikian, BMKG mengingatkan distribusi hujan tidak akan merata di seluruh wilayah Indonesia. Karena itu, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu disesuaikan dengan tingkat kerawanan di setiap daerah, terutama wilayah yang masih mengalami dampak karhutla berat.

Editor : Ahmad Antoni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network