Daftar 10 Negara dengan Harga BBM Paling Murah di Dunia, Nomor 1 Hanya Rp427 per Liter
JAKARTA, iNewsSemarang.id – Ada fakta menarik bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara masih sangat murah di saat harga energi menjadi perhatian utama masyarakat dunia.
Bahkan, di beberapa negara penghasil minyak besar, harga satu liter bensin lebih murah daripada sebotol air mineral. Perbedaan harga tersebut bukan diakibatkan oleh harga minyak mentah yang berbeda.
Hampir semua negara membeli atau menjual minyak berdasarkan harga pasar global yang relatif sama. Yang membedakan adalah kebijakan pemerintah, terutama terkait subsidi energi, pajak bahan bakar, dan kapasitas produksi minyak domestik.
Mengutip data per 1 Juni 2026 dari Global Petrol Price, negara-negara produsen minyak masih mendominasi daftar negara dengan harga bensin termurah di dunia.
Berdasarkan data Global Petrol Prices per 1 Juni 2026, berikut daftar negara dengan harga BBM termurah di dunia. Data ini mengacu pada kurs pada Kamis (18/6/2026), yakni Rp17.803 per dolar Amerika Serikat (AS).
1. Libya: USD0,024 atau Rp427/liter
2. Iran: USD0,029 atau Rp516/liter
3. Venezuela: USD0,035 atau Rp623/liter
4. Angola: USD0,327 atau Rp5.821/liter
5. Kuwait: USD0,340 atau Rp6.053/liter
6. Algeria (Al Jazair): USD0,353 atau Rp6.285/liter 7. Turkmenistan: USD0,428 atau Rp7.620/liter
8. Egypt (Mesir): USD0,463 atau Rp8.243/liter
9. Qatar: USD0,576 atau Rp10.254/liter
10. Arab Saudi: USD0,620 atau Rp11.038/liter
Dengan harga hanya USD0,024 per liter atau sekitar Rp427 per liter, Libya menjadi negara dengan bensin termurah di dunia. Kondisi ini dimungkinkan karena Libya memiliki cadangan minyak terbesar di Afrika. Pemerintah mempertahankan subsidi energi dalam jumlah besar sehingga masyarakat dapat menikmati harga bahan bakar yang sangat rendah.
Iran dan Venezuela menempati posisi kedua dan ketiga dunia sebagai negara dengan harga bensin termurah di dunia. Iran merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak dan gas alama terbesar di dunia. Pemerintah negara tersebut telah lama menjadikan harga energi murah sebagai bagian dari kebijakan kesejahteraan rakyat.
Sementara itu, Venezuela yang memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia juga mempertahankan subsidi bahan bakar dalam skala besar. Akibatnya, harga bensin di negara itu termasuk yang termurah di dunia meskipun ekonominya mengalami berbagai tekanan selama bertahun-tahun.
1. Cadangan Minyak yang Melimpah
Sebagian besar negara dalam daftar ini merupakan eksportir minyak utama dunia. Mereka memiliki akses langsung terhadap sumber minyak mentah sehingga biaya produksi dan distribusi relatif rendah.
2. Subsidi Pemerintah
Faktor terbesar adalah subsidi energi. Pemerintah menggunakan pendapatan dari ekspor minyak untuk menekan harga bahan bakar domestik agar tetap murah bagi masyarakat.
3. Pajak yang Rendah
Berbeda dengan negara-negara Eropa yang membebankan pajak tinggi pada bahan bakar, negara-negara produsen minyak umumnya menerapkan pajak rendah sehingga harga di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) tetap murah.
Dalam data Global Petrol Prices, Indonesia tercatat memiliki harga bensin sekitar USD 0,714 per liter. Dengan kurs Rp17.803 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp12.711 per liter. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan banyak negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, Inggris, Prancis, dan Jerman.
Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan energi nasional masih memberikan perlindungan tertentu terhadap gejolak harga minyak global. Negara dengan
Di sisi lain, sejumlah negara dan wilayah menerapkan pajak energi yang sangat tinggi sehingga harga bensin melonjak jauh di atas rata-rata dunia.
Berdasarkan data yang sama, ini lima wilayah atau pun negara dengan harga bensin tertinggi.
1.Hong Kong: USD 4,139 atau Rp73.685/liter
2. Malawi: USD 3,841 atau Rp68.380/liter
3. Israel: USD 2,828 atau Rp50.357/liter
4. Denmark: USD 2,774 atau Rp49.396/liter
5. Belanda: USD 2,670 atau Rp47.534/liter
Harga tinggi tersebut terutama berasal dari kebijakan pajak bahan bakar, pajak karbon, dan upaya mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan.
Editor : Ahmad Antoni