get app
inews
Aa Text
Read Next : Prabowo Copot Dadan Hindayana, Kejagung Geledah Kantor BGN

Jateng Siap Kembangkan Penggunaan BBM B50, Dimulai dari Alat-Alat Pertanian

Kamis, 09 Juli 2026 | 18:48 WIB
header img
Ilustrasi, aktivitas pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis B50 (biodesel). (foto: istimewa)

KARAWANG, iNewsSemarang.id - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendukung penuh terhadap implementasi mandatori penggunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis B50  (biodesel), yang resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7).

B50 merupakan bahan bakar yang terdiri dari 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit (FAME/Fatty Acid Methyl Ester) dan 50 persen solar (diesel fosil). B50 merupakan kelanjutan dari program mandatori biodiesel pemerintah yang sebelumnya telah menerapkan B20, B30, dan B40. Angka 50 menunjukkan persentase kandungan biodiesel dalam campuran tersebut.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengatakan, saat ini penggunaan BBM baru B50 di wilayahnya masih fokus di alat-alat pertanian. Kedepannya diharapkan ke alat-alat lain, termasuk transportasi darat maupun laut.

"Sekarang itu, PT Kubota di Kota Semarang sudah menggunakan alat-alat pertanian dengan B50. Nanti ke depannya lagi tidak hanya ke alat-alat pertanian tetapi bisa juga kapal atau kendaraan yang menggunakan biosolar," katanya.

Menurut dia, keberhasilan implementasi B50 di sektor transportasi, industri, maupun alat mesin pertanian, akan memperkuat daya saing daerah, sekaligus mendukung ketahanan energi nasional. Bahkan, sangat mendukung transisi energi yang lebih ramah lingkungan.

Bagi Jawa Tengah, pengembangan bioenergi ini melengkapi berbagai program transisi energi yang sedang dijalankan, seperti pengembangan PLTS, pompa air tenaga surya, Desa Mandiri Energi, dan lainnya. 

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto mengatakan, dengan peluncuran program tersebut Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan Mandatori B50. Capaian itu bukan semata soal kemajuan teknologi, tetapi juga pemanfaatan  sumber daya alam sendiri untuk kepentingan rakyat. 

"Saya dorong terus dan menuntut tim untuk kemandirian energi. B40 saja tidak cukup, bahkan saat itu saya mendorong ke arah B100, tetapi katanya B50 saja kita sudah cukup untuk tidak impor solar dari luar negeri," katanya.

Prabowo menyampaikan, keberhasilan dari program Mandatori B50 tersebut tidak bisa lepas dari peran banyak pihak, baik itu kementerian terkait, petani sawit, maupun pengusaha. Bahkan, keberhasilan itu juga tak lepas dari peran presiden-presiden sebelumnya. 

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan Mandatori B50 dapat menghemat devisa sampai Rp170 triliun. Dengan begitu, mampu membuat Indonesia tidak perlu impor solar dari luar negeri lagi. Dampak lainnya adalah memberikan kepastian pasar bagi petani sawit dengan serapan CPO yang meningkat.
 

Editor : Ahmad Antoni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut