Sosok Gus Rozin, Cicit KH Bisri Syansuri dan Pewaris Tradisi 3 Pesantren Besar di Jawa
JAKARTA, iNewsSemarang.id – Sosok KH Abdul Ghaffar Rozin yang akrab disapa Gus Rozin, menarik di ulas. Perjalanan hidup Gus Rozin dibentuk oleh tiga tradisi besar pesantren di Jawa, yakni Tambakberas, Denanyar, dan Kajen.
Diketahui, dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), garis keturunan bukan sekadar silsilah keluarga, melainkan warisan ilmu, keberkahan, dan tanggung jawab perjuangan yang sangat besar.
Dari garis sang ayah, KH Mochammad Djamaluddin Ahmad yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin, Tambakberas, Gus Rozin mewarisi nilai-nilai keilmuan dan kedalaman spiritual dari Pesantren Tambakberas, Jombang.
KH Mochammad Djamaluddin Ahmad merupakan seorang ulama kharismatik asal Jombang yang dikenal luas sebagai pengasuh Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin di Tambakberas. Beliau lahir pada tahun 1943 dan wafat pada 24 Februari 2022.
Sepanjang hidupnya, dia dikenal sebagai sosok yang istiqamah dalam membina santri dan membimbing masyarakat melalui pendekatan spiritual yang mendalam. Di kalangan masyarakat, beliau masyhur sebagai seorang pakar tasawuf, bahkan sering dijuluki sebagai “tasawuf berjalan”.
Sementara dari garis sang ibu, Nyai Hj Khuriyah Abdul Fattah, mengalir garis keturunan dari Pesantren Denanyar, Jombang. Nyai Khuriyah merupakan putri dari KH Abdul Fattah Hasyim dan Nyai Hj Musyarofah. Nyai Musyarofah sendiri adalah putri kandung KH Bisri Syansuri. Artinya, dari garis maternal ini, Gus Rozin merupakan cicit KH Bisri Syansuri, salah satu ulama pendiri Nahdlatul Ulama.
Dua garis keturunan besar dari Tambakberas dan Denanyar tersebut kemudian berpadu di Kajen, Margoyoso, Pati. Sejak kecil, Gus Rozin tumbuh dan ditempa di Pesantren Maslakul Huda di bawah bimbingan langsung KH MA Sahal Mahfudh bersama istrinya, Nyai Hj Nafisah Sahal yang merupakan bibi Gus Rozin. Dari Mbah Sahal, Gus Rozin belajar menyatukan keteguhan tradisi keilmuan dengan pemikiran sosial yang responsif terhadap perkembangan zaman.
KH MA Sahal Mahfudh adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak tahun 2000 hingga 2014. Sebelumnya selama dua periode menjabat sebagai Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sejak 1999 hingga 2014.

Beliau merupakan sosok ulama kontemporer Indonesia yang disegani karena kehati-hatiannya dalam bersikap dan kedalaman ilmunya dalam memberikan fatwa terhadap masyarakat baik dalam ruang lingkup lokal (masyarakat dan pesantren yang dipimpinnya) dan ruang lingkup nasional, karena beliau juga seorang pemikir yang menulis ratusan risalah (makalah) berbahasa Arab dan Indonesia, dan juga aktivis LSM yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap problem masyarakat kecil di sekelilingnya. Beliau diakui juga sebagai salah satu ahli Fiqih terbaik di Indonesia.
Bagi Gus Rozin sendiri, warisan nasab yang terikat kuat dengan para tokoh besar NU ini bukanlah alasan untuk berbangga diri, melainkan sebuah pengingat akan pengabdian. Pertemuan tiga tradisi besar ini menempatkan Gus Rozin tidak hanya sebagai penerus pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen, tetapi juga penyambung estafet perjuangan para ulama pendiri NU.
Silsilah ini memperlihatkan bahwa perjalanan intelektual dan kepemimpinan Gus Rozin terbentuk dari perpaduan nasab pesantren, pendidikan keagamaan, pengabdian sosial, serta tradisi perjuangan Nahdlatul Ulama.
Pada akhirnya, karakter Gus Rozin mewujud sebagai representasi ideal dari sosok santri yang paripurna: kakinya menjejak sangat kuat pada akar tradisi salaf, namun pemikirannya merentang jauh ke depan untuk menjawab tantangan modernitas.
Berikut tiga kekuatan besar yang membentuk kepribadian Gus Rozin
- Kelembutan tasawuf sang ayah yang membumi dan menyejukkan.
- Ketegasan prinsip perjuangan sang kakek buyut, KH Bisri Syansuri, dalam mengawal jam'iyah NU.
- Kecemerlangan fiqih sosial ala Mbah Sahal yang menjadikan agama sebagai solusi atas ketimpangan masyarakat.
Di tangan Gus Rozin, kepemimpinan tidak ditampilkan lewat arogansi kebangsawanan pesantren, melainkan lewat keteladanan (uswah hasanah), inovasi dalam dunia pendidikan, dan komitmen tiada henti untuk memberdayakan umat.
Dia hadir bukan sekadar sebagai "penjaga menara gading" tradisi, melainkan sebagai kiai penggerak—sosok organisatoris yang memastikan bahwa nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan terus menyala, relevan dengan zaman, dan membawa rahmatan lil 'alamin.
Editor : Ahmad Antoni