Musim Hujan Jateng Diprediksi Mundur Sebulan, Petani Diimbau Waspadai Hujan Salah Mangsa
Menurut dia, petani tadah hujan perlu lebih berhati-hati karena sumber air untuk tanaman sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Berbeda dengan lahan yang memiliki irigasi teknis atau sumber air lain yang lebih terjamin.
“Kalau ada irigasi teknis, ada air, mungkin sudah bisa melakukan. Tapi yang kami sampaikan ini adalah petani-petani yang menggunakan air dengan tadah hujan,” jelasnya.
Goeroeh juga menegaskan, keterlambatan awal musim hujan tidak berarti musim hujan akan berlangsung lebih panjang. Musim hujan tahun ini secara umum diperkirakan memiliki sifat normal, meskipun waktu kedatangannya mengalami keterlambatan.
Sementara itu, puncak musim hujan di Jawa Tengah juga diperkirakan berbeda antarwilayah. Ada daerah yang mencapai puncak pada Januari, sementara wilayah lainnya baru mengalami puncak curah hujan pada Februari hingga Maret.
Kondisi tersebut perlu diperhatikan karena peningkatan curah hujan dapat diikuti potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Dengan prediksi awal musim hujan yang berbeda-beda di setiap wilayah yang dipimpin Gubernur Ahmad Luthfi ini, masyarakat diimbau tidak menggunakan satu patokan untuk seluruh daerah.
Waktu datangnya hujan perlu dilihat berdasarkan wilayah masing-masing, terlebih setelah Jawa Tengah melewati periode kemarau yang lebih panjang dan dipengaruhi dinamika El Nino.
“Karena itu, masyarakat, termasuk petani, diminta mengikuti informasi cuaca dan iklim terbaru dari BMKG sebelum menentukan aktivitas yang berkaitan dengan kondisi musim. Khusus petani tadah hujan, informasi awal musim hujan menjadi penting untuk menentukan waktu penyemaian dan penanaman, agar tidak terjebak hujan yang hanya bersifat sementara,” ujarnya.
Editor: Ahmad Antoni