Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Daftar Negara yang Dikenakan Tarif Impor Baru oleh Donald Trump, Indonesia Kena 10 Persen
Advertisement . Scroll to see content

Rupiah Terkapar, Hari Ini Kembali Melemah Rp18.048 per Dolar AS

Senin, 19 Oktober 2026 | 17:30 WIB
  • author Anggie Ariesta
Rupiah Terkapar, Hari Ini Kembali Melemah Rp18.048 per Dolar AS
Mata uang Indonesia turun 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp18.046 per dolar AS pada Senin (19/10). (foto: dok MPI)

JAKARTA, iNewsSemarang.id - Nilai tukar rupiah masih terkapar. Hari ini ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan, Senin (19/10/2026). Mata uang Indonesia turun 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp18.046 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, salah satu sentimen datang dari eksternal yakni Presiden AS Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang menangguhkan sejumlah sanksi terhadap Rusia, hanya beberapa hari sebelum sanksi-sanksi tersebut sedianya mulai berlaku.

"Trump juga membatalkan rencana pengenaan tarif terhadap negara-negara yang mengimpor minyak dari Rusia," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Kebijakan ini diambil demi kepentingan nasional AS. Keputusan ini muncul hanya sepekan setelah Trump menandatangani kesepakatan impor diesel dengan Rusia, seraya menyalahkan Ukraina atas kenaikan harga bahan bakar global akibat serangan-serangan Ukraina terhadap fasilitas-fasilitas Rusia.

Namun, Trump menuai kritik dari sejumlah anggota parlemen AS baik dari Partai Republik maupun Demokrat terkait kebijakan pelonggaran sanksi terhadap Rusia tersebut.

Trump saat ini tengah menghadapi masalah kenaikan harga bahan bakar yang telah berlangsung selama berbulan-bulan, sebuah situasi yang berpotensi memengaruhi prospek Partai Republik dalam pemilihan umum paruh waktu mendatang.

Risiko inflasi diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan tingginya kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah. Pembicaraan antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu, sementara ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman terus meningkat.

Editor: Ahmad Antoni

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut