Dalam pelatihan ini, para peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga terlibat dalam simulasi penanganan massa secara langsung. Mulai dari tahap awal saat massa datang dan menyampaikan aspirasi, dinamika saat orasi berlangsung, hingga menghadapi potensi eskalasi situasi yang meningkat.
Dalam simulasi tersebut, para Polwan dilatih membangun komunikasi persuasif, membaca kondisi psikologis massa, serta menentukan langkah yang tepat untuk menjaga situasi tetap aman hingga kegiatan berakhir.
Pelibatan instruktur dari Satbrimob turut memperkuat aspek mental dan kesiapan lapangan, sehingga para negosiator mampu berperan optimal saat mendampingi unit pengendalian massa (Dalmas) dalam berbagai skenario, termasuk situasi kontingensi.
Melalui latihan yang terstruktur ini, diharapkan seluruh personel memiliki pemahaman yang sama terkait teknik dan pola komunikasi sebagai tim negosiator, sehingga mampu bertindak cepat, tepat, dan terukur dalam setiap dinamika di lapangan.
Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, menjelaskan bahwa penguatan kapasitas negosiator merupakan bagian dari komitmen Polri dalam mengedepankan pendekatan humanis dalam menjaga keamanan.
“Negosiator adalah representasi Polri di garis depan yang mengedepankan dialog dan solusi. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan bahwa setiap personel, khususnya Polwan, mampu menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara kepolisian dan masyarakat, sehingga setiap potensi konflik dapat dikelola dengan baik tanpa menimbulkan dampak yang lebih luas,” jelasnya.
Dengan kesiapan tersebut, diharapkan para Polwan Polda Jateng dapat menjadi pionir dalam meredam potensi konflik sosial, sekaligus memperkuat kehadiran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang profesional serta humanis.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
