SEMARANG, iNewsSemarang.id -Nyeri lutut dapat disebabkan cedera ligamen, radang sendi (osteoarthritis atau asam urat), penumpukan cairan, hingga penggunaan berlebih. Namun jangan pernah menyepelekan nyeri lutut yang sering dianggap sebagai proses penuaan.
Pasalnya, kondisi tersebut bisa mengganggu aktivitas sehari-hari hingga menurunkan kualitas hidup jika tidak ditangani dengan benar dan tepat.
Hal itu disampaikan oleh dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi, dr Andreas Vincent Handoyo SpOT, dalam seminar kesehatan “The Spark of Healthy Life” di Auditorium SMC RS Telogorejo Semarang, Jumat (22/5/2026).
Dia memaparkan sejumlah gejala gangguan lutut dan sendi yang perlu diwaspadai masyarakat, di antaranya nyeri dan nyeri tekan, kaku pada sendi, gerak yang terbatas, muncul bunyi pada lutut, bengkak, hingga perubahan bentuk kaki menjadi bengkok.
“Kalau fungsi dan tenaga mulai berkurang, bahkan muncul benjolan atau pembesaran di area sendi, itu perlu segera diperiksa,” ungkap dr Andreas.
Menurutnya, penanganan nyeri lutut dilakukan bertahap sesuai tingkat kerusakan sendi. Mulai dari obat minum, suntikan antiradang, oli sintetis, hingga terapi stem cell seperti PRP dan secretome.
“Selain itu, pasien juga dapat menjalani fisioterapi atau rehabilitasi medik. Pada kondisi tertentu, tindakan operasi menjadi pilihan,” ujarnya.
Operasi tersebut, sebut dia, meliputi teropong sendi, penguncian sendi, hingga penggantian bantalan lutut atau total knee replacement (TKR).
“Prosedur TKR umumnya dilakukan pada pasien dengan kerusakan sendi lutut berat atau osteoarthritis grade 3 dan 4 yang disertai nyeri kronis,” ujarnya.
Tindakan ini juga bisa dilakukan pada pasien dengan kerusakan lutut akibat rheumatoid arthritis, trauma, maupun kondisi lain yang gagal ditangani dengan terapi konservatif.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
