Padahal, pembentukan memori jangka panjang membutuhkan proses berpikir yang melibatkan usaha (effortful process). Ketika proses tersebut digantikan oleh AI, ikatan memori menjadi lebih lemah sehingga informasi yang dipelajari lebih mudah terlupakan.
Penelitian juga menemukan bahwa dampak tersebut terjadi secara konsisten pada berbagai jenis mata pelajaran. Bahkan, efeknya tetap muncul meski pengguna sudah terbiasa atau sangat mahir menggunakan teknologi AI.
Selain menurunkan retensi pengetahuan, ketergantungan pada AI juga memunculkan fenomena yang disebut sebagai ilusi pemahaman atau metacognitive blind spot. Kondisi ini membuat seseorang merasa telah memahami suatu materi hanya karena mampu membaca atau memperoleh jawaban yang tersusun rapi dari AI.
Padahal, pemahaman tersebut belum tentu benar-benar dimiliki oleh otaknya. Akibatnya, pengguna dapat merasa percaya diri telah menguasai materi, meski sebenarnya belum melalui proses berpikir kritis yang diperlukan untuk memahami dan mengingat informasi secara mendalam.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa AI sebaiknya dimanfaatkan sebagai alat pendukung proses belajar, bukan pengganti aktivitas berpikir. Menggunakan AI untuk mencari referensi atau membantu memahami konsep tetap bermanfaat, selama pengguna tetap aktif menganalisis, mengolah, dan mengingat materi secara mandiri.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
