Semar, Gareng, Petruk dan Bagong menjadi simbol kritis terhadap kondisi negeri Astina, yang sedang mencanangkan misi Menuju Astina Emas 2045. Mereka memiliki ciri dan cara masing-masing-masing menyikapi kondisi Astina dengan karakter masing-masing.
Semar yang diperankan Agus Riyanto, merupakan perwujudan dewa, memiliki karakter memberikan nasihat atau wejangan-wejangan atas berbagai carut marut di negeri Astina.
Gareng yang diperankan oleh Rustam, kakinya pincang ketika berjalan, merupakan simbolisasi kritik terhadap berbagai kepincangan kehidupan sosial, ekonomi, politik maupun kepincangan keadilan di negeri Astina.
Petruk yang diperankan oleh Luthfi lebih mengedepankan menggunakan plesetan atas istilah-istilah program pemerintah Astina. Ada PBG yaitu pembagian Pakan Bergizi Gratis, Jampidsus, penemuan emas antum yang disimpan oleh pejabat Astina, dan lainnya.
Namun tanpa tedeng aling-aling (terbuka) dalam mengkritisi kondisi Astina adalah Bagong yang diperankan oleh Ahmad Antoni. Ini sesuai karakter Bagong yang ceplas ceplos dalam menyampaikan berbagai pendapat, juga sikap Bagong yang mbalela kepada pemerintah.
Contohnya, Bagong bersikap acuh, karena melihat PBG di negeri Astina tidak tepat sasaran. Ini terlihat dari pendapat Bagong terhadap pembagian PBG. Ketika beberapa anak berseragam sekolah dasar (SD) dimunculkan dalam cerita tersebut, masing-masing membawa ompreng makanan PBG.
Ada anak yang kurus, juga ada anak yang gemuk. Bagong pun berpendapat, program PBG belum baik karena masih banyak anak yang kurus. Bagong juga melihat ada pejabat memiliki simpanan emas antum, sedangkan rakyat banyak yang miskin. Juga banyak pejabat menghambur hamburkan uang, penguasa hidup mewah dari pungutan pajak yang mencekik, sementara rakyat kecil hidup sengsara.
Maka Bagong pun mbalelo terhadap kebijakan pemerintah Astina yang tidak adil dan tidak merata pembangunannya. Dia juga mbalela terhadap pejabat yang korup. Ini mengandung arti, Bagong tidak mau tunduk kepada penguasa yang serakah dan tidak adil.
Pementasan menjadi segar dan penuh canda tawa. Penonton pun antusias dan berulangkali meledak gelak tawa, atas ulah para Punokawan.
Berulangkali para Punokawan membuat kesalahan dengan tingkah lucu di luar skenario, yang membuat sang Dalang kewalahan dan kebingungan sendiri. “Sek..sek (sebentar, sebentar) kayake ini di luar skenario,” ucap Arief yang disambut tawa penonton.
Meski demikian, secara keseluruhan pementasan Punokawan Bagong Mbalelo, meski terlihat konyol namun sarat muatan pesan moral terhadap masyarakat terutama generasi muda.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
