Hari ke-9 Operasi SAR, KKJ Jateng-DIY Doa Bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Ahmad Antoni
Doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hingga kini masih dalam pencarian setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda. (foto: istimewa)

SEMARANG, iNewsSemarang.id - Komite Keselamatan Jurnalis (KKJ) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar doa bersama untuk lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hingga kini masih dalam pencarian setelah hilang kontak di perairan Selat Sunda saat menjalankan tugas peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Lima jurnalis tersebut adalah Yudistiro Pranoto dari iNews, M. Bagus Khoirunnas dari LKBN ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni, jurnalis lepas. Sementara tiga awak kapal yakni Warta selaku nakhoda, Surakman selaku ABK, dan Heriyanto selaku pemandu.

Diketahui, kedelapan orang tersebut berangkat menggunakan kapal cepat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Hingga memasuki hari kesembilan operasi pencarian dan pertolongan (SAR), keberadaan mereka masih belum diketahui.

Doa bersama digelar pada Rabu (16/9) malam, di kawasan Pleburan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi ruang bagi jurnalis, pers mahasiswa, dan masyarakat untuk mendoakan keselamatan kedelapan orang tersebut sekaligus menguatkan keluarga yang masih menanti kabar.

“Kami turut berduka atas musibah ini. Memasuki hari kesembilan operasi SAR, kami masih berharap kelima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat,” ungkap KJJ Jateng-DIY dalam keterangan pers.

“Kami mengajak masyarakat untuk tidak berhenti mengirimkan doa baik bagi mereka dan keluarga. Semoga keluarga yang menanti diberi kekuatan dan ketabahan,” imbuhnya.

Peristiwa ini sekaligus menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa tidak ada berita yang seharga dengan nyawa. Jurnalis memang memiliki tanggung jawab menyampaikan informasi kepada publik, termasuk dari lokasi bencana. 

Namun, keselamatan harus tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kerja jurnalistik. Kecepatan dan eksklusivitas berita tidak boleh ditempatkan di atas keselamatan manusia.

Keselamatan Jurnalis Harus Jadi Prioritas

KKJ Jateng dan DIY mengimbau jurnalis dan pers mahasiswa untuk selalu berhati-hati ketika meliput situasi rawan, terutama bencana alam. Sebelum berangkat, jurnalis perlu memahami kondisi lokasi, potensi bahaya, perkembangan cuaca, serta informasi dan peringatan dari otoritas terkait. 

Jurnalis juga perlu memastikan redaksi atau rekan kerja mengetahui lokasi dan rencana peliputan, menyiapkan komunikasi serta jalur evakuasi, dan menggunakan perlengkapan keselamatan yang sesuai dengan kondisi lapangan. 

Jika situasi berubah menjadi berbahaya, jurnalis harus berani menghentikan peliputan dan tidak memaksakan diri demi mendapatkan gambar atau informasi eksklusif.

Keselamatan jurnalis bukan hanya tanggung jawab mereka yang berada di lapangan, tetapi juga tanggung jawab perusahaan media. KKJ Jateng dan DIY mendesak perusahaan media untuk tidak memberikan penugasan di wilayah bencana tanpa melakukan penilaian risiko dan menyiapkan mitigasi keselamatan. 

Perusahaan media harus memastikan jurnalis mendapatkan informasi mengenai potensi bahaya, perlengkapan keselamatan, prosedur komunikasi dan evakuasi, serta dukungan yang diperlukan selama dan setelah peliputan. 

Perusahaan media juga perlu membekali jurnalis dengan pelatihan peliputan kebencanaan, pertolongan pertama, dan bila diperlukan pelatihan survival di lokasi bencana. Penugasan tidak boleh sekadar berbunyi “berangkat dan liput”, tanpa mempertimbangkan risiko yang mungkin dihadapi jurnalis.

Keselamatan jurnalis juga perlu menjadi perhatian karena kekerasan terhadap jurnalis masih terjadi. Merujuk data AJI Semarang, sepanjang 2024 tercatat empat kasus kekerasan terhadap jurnalis, meningkat menjadi 21 kasus pada 2025. Sementara pada Januari hingga September 2026, tercatat enam kasus kekerasan terhadap jurnalis.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya menciptakan lingkungan kerja pers yang aman agar jurnalis dapat menjalankan tugasnya secara independen dan bertanggung jawab.

“Kami berharap peristiwa hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal ini tidak hanya menjadi kabar duka, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh ekosistem pers bahwa keselamatan harus menjadi prioritas dalam setiap penugasan,” harapnya.

“Pada hari kesembilan operasi SAR ini, kami tetap berharap dan berdoa agar seluruh jurnalis dan awak kapal yang masih hilang dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat,” ujarnya.
 

Editor : Ahmad Antoni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network