HUT ke-81 KAI, Argo Merbabu Hadirkan Vintage Livery yang Terinspirasi Kereta Seri ABL-9000

Ahmad Antoni
KA Argo Merbabu dengan vintage livery yang terinspirasi dari kereta seri ABL-9000, kereta yang memiliki catatan penting dalam perkembangan layanan kereta api di Indonesia pada DKA. (foto: iNewsSemarang.id)

Kereta seri ABL-9000 mulai digunakan oleh DKA pada 1 Oktober 1954. Kereta ini memiliki konfigurasi kelas 1 dan kelas 2 dalam kompartemen yang dipisahkan sekat berpintu, dengan kapasitas masing-masing 12 tempat duduk kelas 1 dan 47 tempat duduk kelas 2. Sebanyak 49 unit ABL-9000 dipesan oleh DKA dan diproduksi oleh tiga pabrikan asal Prancis, yakni Société Lorraine, Carel Fouché, serta Brissonneau et Lotz.

Pada masa awal pengoperasiannya, kereta ABL-9000 digunakan untuk mendukung layanan ekspres pada sejumlah rute, termasuk Jakarta–Surabaya, Jakarta–Semarang, Jakarta–Yogyakarta, dan Jakarta–Bandung. Kereta seri ini juga memiliki catatan dalam perjalanan sejarah nasional ketika digunakan untuk mendukung perjalanan peserta Konferensi Asia-Afrika pada 1955.

Seiring perkembangan zaman, sebagian kereta ABL-9000 mengalami perubahan fungsi dan kemudian dikonversi menjadi kereta kelas ekonomi. Sebagian di antaranya kembali dikonversi menjadi kereta kelas eksekutif pada dekade 1990-an dan digunakan dalam layanan KA Argo Lawu.

“Yang kami hadirkan hari ini bukan sekadar tampilan livery lama. Ada cerita panjang di baliknya. Kereta yang dahulu menjadi bagian dari perjalanan penting pada masanya, kini inspirasinya hadir kembali melalui rangkaian KA Argo Merbabu dalam momentum HUT ke-81 KAI,” jelas Luqman.

Ketika Sejarah Kereta Api Bertemu dengan Sastra

Semarak HUT ke-81 KAI di Daop 4 Semarang juga menghadirkan perspektif lain mengenai perjalanan kereta api melalui pembacaan puisi “Di Stasiun Tawang” karya Louis-Philippe Dalembert.

Kegiatan tersebut menghadirkan kolaborasi bersama Triyanto Triwikromo, sastrawan dan akademisi Universitas Diponegoro, serta Ucik Fuadhiyah, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang sekaligus sastrawati dan peneliti.

Pemilihan Stasiun Semarang Tawang sebagai ruang pembacaan puisi memiliki makna tersendiri. Stasiun yang telah berdiri sejak 1914 tersebut merupakan salah satu bangunan bersejarah di Kota Semarang dan hingga kini tetap menjadi bagian dari aktivitas perjalanan kereta api.

Editor : Ahmad Antoni

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network