Lebih dari sekadar kompetisi, Porprov diharapkan menjadi tontonan yang menarik dan menghibur masyarakat, sekaligus menjadi investasi strategis bagi kemajuan olahraga Jawa Tengah, khususnya dalam pembinaan atlet dan peningkatan prestasi di tingkat nasional maupun internasional.
"Para atlet dan ofisial jangan mempunyai ego sektoral, gunakan media ini untuk saling menghormati, wasit juga tidak boleh memihak, berikan yang terbaik," tegas Luthfi.
Selain itu, Porprov diharapkan juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat, terutama bagi tuan rumah, yaitu Kota Semarang, Kota Salatiga, Kabupaten Semarang, Kabupaten Demak, dan Kabupaten Kendal. Baik dari sisi UMKM, okupansi perhotelan, hingga pariwisata. "Ini berkah bagi kita, dengan Porprov ini nanti akan ada perputaran finansial dan ekonomi," ujarnya.
Ketua KONI Jateng Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan selain lima daerah di Semarang Raya, ada sejumlah cabang yang harus dipertandingkan di daerah lain karena terkendala fasilitas. Misalnya balap sepeda track akan menggunakan velodrom di Surakarta, aeromodeling di Bandara Ngloram Kabupaten Blora, dan Gimnastik senam artistik di Pati.
"Porprov Jateng ke-XVII ini ajang kompetisi olahraga antar kabupaten kota setiap empat tahun sekali. Tujuannya untuk mengukur hasil pembinaan atlet di daerah, mempertemukan semua atlet tebaik dari seluruh kabupaten/kota dan memilih yang terbaik, menjaring atlet potensial, serta meningkatkan mutu pembinaan secara terarah," ujarnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
