Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Tembus Jakarta, Warga Diimbau Pakai Masker
Advertisement . Scroll to see content

Fenomena Bediding hingga September, Ini Penjelasan BMKG

Rabu, 17 Juli 2024 | 13:18 WIB
  • author Binti Mufarida
Fenomena Bediding hingga September, Ini Penjelasan BMKG
Fenomena suhu udara dingin atau Bediding saat musim kemarau melanda di sejumlah wilayah Indonesia. (ilustrasi/IST)

“Selanjutnya mengakibatkan suhu udara di beberapa wilayah di Indonesia terutama wilayah bagian Selatan Khatulistiwa terasa lebih dingin. Orang Jawa menyebutnya mbedhidhing,” ujarnya.

Guswanto kembali menjelaskan bahwa kondisi suhu lebih dingin tidak berkaitan dengan clear sky atau kondisi langit tanpa awan. Saat ini, kondisi di wilayah Indonesia berupa angin yang tenang di malam hari menghambat pencampuran udara, sehingga udara dingin terperangkap di permukaan bumi.

Bahkan, daerah dataran tinggi atau pegunungan cenderung lebih dingin karena tekanan udara dan kelembaban yang lebih rendah. Kondisi dingin ini merupakan fenomena umum yang umum terjadi di Indonesia saat musim kemarau.

“Diketahui bediding dari data suhu malam hari yang terjadi bulan Juli-Agustus, dibandingkan normalnya. Dingin itu kan ada ukurannya. Misalkan suhu, normalnya di malam hari bersuhu 21-23 derajat Celcius, pada bulan Juli-Agustus bisa 17-19 derajat Celcius,” ujarnya.

Editor: Ahmad Antoni

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut