get app
inews
Aa Text
Read Next : Niat Zakat Fitrah untuk Sendiri, Istri, Anak, Keluarga dan Orang Lain Lengkap dengan Arab Latin

Sejarah Ketupat Lebaran, Berikut Makna dan Filosofinya

Rabu, 02 April 2025 | 07:26 WIB
header img
Ketupat merupakah salah satu hidangan khas yang tak pernah terlewatkan saat Idul Fitri tiba. (Ist)

JAKARTA, iNewsSemarang.id – Sejarah ketupat lebaran berut makna dan filosofinya yang perlu diketahui umat Muslim yang sedang merayakan Idul Fitri 1446 Hijriah.

Ketupat menjadi salah satu hidangan khas yang tak pernah terlewatkan saat Idul Fitri tiba. Di balik anyaman daun kelapa dan bentuknya yang unik, ketupat ternyata menyimpan filosofi dan makna mendalam yang mencerminkan makna Idul Fitri bagi umat Muslim.

Dari simbolisasi kesucian hingga lambang kebersamaan, ketupat menjadi bagian tak terpisahkan dalam tradisi Lebaran di Indonesia.

Asal usul ketupat dimulai sejak masa hidup Sunan Kalijaga, yaitu pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga sendiri ialah seorang Wali Songo yang turut menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.

Tak hanya itu lebaran ketupat dulunya dirayakan pada satu mingu setelah Idul Fitri, yakni 8 Syawal setelah melaksanakan puasa sunnah selama enam hari.

Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya dan filosofi dari pembauran antara Jawa dan nilai-nilai Islam. Ketupat bukan sekedar hidangan hari raya, namun memiliki makna filosofis seperti berikut ini.

1. Dibuat dari Janur Kuning
Kebanyakan ketupat dibuat dengan janur kuning, walaupun sesekali ada juga yang membuat dengan daun kelapa yang sudah agak tua. Menurut cerita orang terdahulu janur kuning merupakan perlambangan balak, dengan demikian penggunaan janur kuning dalam membuat ketupat atau dalam hajatan dipercaya dapat memperoleh berkah dari Allah.

2. Bentuk Empat Sudut Melambangkan 4 Penjuru Mata Angin
Ketupat dengan bentuk segi empat memiliki makna filosofis yang mendalam, yaitu melambangkan empat penjuru mata angin. Dahulu, bentuk ini menjadi ciri khas ketupat, namun kini variasi bentuknya semakin beragam.

Konsep segi empat tersebut juga menggambarkan filosofi ‘kiblat papat limo pancer’, yakni empat arah mata angin dengan satu pusat, yang mencerminkan keseimbangan alam. Dalam konteks religius, bentuk ini mengajarkan bahwa ke mana pun manusia melangkah, pada akhirnya tujuannya tetap satu, yaitu menuju Allah.

3. Pola Anyaman Melambangkan Kesalahan dan Dosa
Anyaman janur kuning pada ketupat juga mengandung makna filosofis yang mendalam. Bagi masyarakat Jawa, pola anyaman ini melambangkan kesalahan dan dosa yang dilakukan manusia.
Secara religius, manusia memang tidak luput dari kekhilafan. Ketika ketupat dibelah, bagian dalamnya yang berwarna putih melambangkan kesucian dan kebersihan. Dalam tradisi Lebaran, kesucian ini hanya dapat dicapai setelah menjalani ibadah dengan penuh keikhlasan selama bulan Ramadhan.

4. Beras Melambangkan Hati Bersih dan Jiwa Suci
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, beras memiliki makna istimewa sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Dalam ketupat, beras melambangkan bahwa setelah seseorang berhasil membersihkan hati dan jiwanya dari empat jenis nafsu, ia akan mencapai kesejahteraan.
Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa kemakmuran dan kesejahteraan suatu masyarakat hanya dapat terwujud jika individu-individu di dalamnya memiliki hati yang bersih dan jiwa yang suci.

Editor : Ahmad Antoni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut