get app
inews
Aa Text
Read Next : Seluruh Prajurit TNI Siaga 1, Berikut Isi Lengkap Telegram Instruksi Jenderal Agus Subiyanto

Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Terendah Sejak Krisis Moneter 1998

Senin, 09 Maret 2026 | 14:23 WIB
header img
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Senin (9/3/2026), dibuka melemah di level Rp17.019 per dolar AS atau terkoreksi 0,56 persen. (foto: iNews.id)

JAKARTA, iNewsSemarang - Nilai tukar Rupiah hari ini terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (9/3/2026), dibuka melemah di level Rp17.019 per dolar AS atau terkoreksi 0,56 persen.

Rupiah melemah apabila dibandingkan pada penutupan Jumat pekan lalu yang berada di posisi Rp16.925 per dolar AS.

Pelemahan Rupiah Terendah Sejak Krisis 1998
Pelemahan Rupiah ini menjadi catatan sejarah baru karena telah melewati rekor pelemahan terdalam saat pandemi Covid-19 Maret 2020 (Rp16.600-Rp16.700) serta level terburuk saat krisis moneter Juni 1998 yang menyentuh Rp16.800 per dolar AS dalam perdagangan intraday.

Pelemahan ini selaras dengan tren negatif mayoritas mata uang di Asia. Won Korea memimpin pelemahan sebesar 0,85 persen, disusul Yen Jepang (0,58 persen), Ringgit Malaysia (0,49 persen), dan Rupee India (0,16 persen).

Penyebab Rupiah Melemah
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan Rupiah akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam rentang Rp16.850 hingga Rp17.010 per dolar AS sepanjang pekan ini.

Ibrahim menjelaskan bahwa sentimen negatif dari dalam negeri dipicu oleh langkah Fitch Ratings yang menurunkan prospek Indonesia menjadi negatif. Salah satu poin krusial yang disoroti adalah rendahnya rasio pajak (tax ratio) Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir.

“Dalam satu dekade terakhir, tax ratio Indonesia selalu berada di kisaran 9% hingga 10% terhadap PDB. Bahkan, angkanya cenderung menurun seperti yang terjadi pada tahun lalu dari 10,08% pada 2024 menjadi 9,31% pada 2025,” ujar Ibrahim dalam risetnya.

Selain itu, program belanja sosial pemerintah yang masif, khususnya Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diprediksi memakan porsi 1,3 persen terhadap PDB selama periode 2025–2029, turut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap keberlanjutan disiplin fiskal.

Terdampak Eskalasi Perang AS-Israel vs Iran
Dari sisi global, pasar masih dibayangi oleh ketegangan geopolitik antara AS, Israel, dan Iran yang kini memasuki hari ketujuh. 

Eskalasi ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah yang berisiko menciptakan gelombang inflasi baru dan menghambat kebijakan penurunan suku bunga global.

“Harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu inflasi dan dapat membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat,” pungkas Ibrahim.

Situasi ini memaksa investor untuk lebih memilih aset aman (safe haven) seperti dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk Rupiah.
 

Editor : Ahmad Antoni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut