Kisah Heroik Prajurit Kopassus Selamatkan Tentara Spanyol dari Kepungan Milisi di Lebanon
JAKARTA, iNewsSemarang.id – Indonesia berduka atas gugurnya tiga prajurit TNI tergabung pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon. Ketiganya adalah Praka Farizal, Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.
Sebagai informasi, Indonesia merupakan salah satu negara yang konsiten mengirim pasukan perdamaian PBB. Saat ini, ada 756 personel TNI yang bertugas di bawah bendera UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).
Ada beragam kisah heroik yang pernah dialami kontingen Indonesia. Salah satunya ketika prajurit Kopassus mengemban misi pasukan perdamaian di Lebanon dalam penyelamatan tentara Spanyol dari kepungan milisi Hizbullah.
Kronologi kejadian berawal saat Tim Recce (pengintai) dari Spanyol melakukan berpatroli di daerah Lebanon. Membawa 60 orang pasukan dengan 10 unit panser. Namun di tengah perjalanan, mereka melihat sebuah kabel di saluran air.
Kabel yang merupakan aliran komunikasi milisi Hizbullah. Barang itupun difoto sebagai barang bukti untuk dilaporkan kepada komandan mereka.
Demikian terungkap dalam karya berjudul “Kopassus untuk Indonesia” yang disusun oleh EA Natagera dan Iwan Santosa, dikutip Minggu (5/4/2026).
Aktivitas tersebut diketahui oleh anggota milisi Hizbullah. Mereka pun dikejar kemudian dikepung oleh pasukan milisi Hizbullah dengan senjata lengkap. Menggunakan motor trail dan membawa senjata AK-47 serta roket anti-tank atau RPG.
“Anda punya senjata, kami juga punya senjata. Kami tidak takut menghadapi Anda,” tandas salah satu milisi Hizbullah.
Anggota militer Spanyol pun segera menghubungi anggota TNI yang juga berada di Lebanon. Pada saat itu keduanya, tergabung dalam United Nation Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Sebuah pasukan perdamaian yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pasukan TNI yang datang segera menengahi kedua kelompok tersebut dan memintanya untuk berdialog. Pihak milisi Hizbullah pun setuju untuk berdialog dan menghentikan pengejaran.
Pasukan milisi Hizbullah akhirnya sepakat untuk berdamai dan menghindari konflik. Mereka hanya meminta memory card yang digunakan pasukan Spanyol diberikan kepadanya. Syarat ini disetujui oleh pihak militer Spanyol tanpa ada pertentangan berarti.
Setelah keadaan lumayan membaik, pasukan TNI coba meluruskan masalahnya kepada anggota milisi Hizbullah. Pasukan TNI memang terkenal dekat dengan warga sekitarnya. Gemar membantu dan dinilai ramah oleh masyarakat Libanon yang pernah bersinggungan.
Hal ini pun divalidasi oleh salah seorang anggota milisi Hizbullah. Ia mengatakan jika bukan pasukan Indonesia yang memintanya, akhir masalahnya mungkin akan berbeda. Mereka memutuskan untuk berdialog dan menghindari konflik, karena menghormati pasukan Indonesia.
"Kami orang Lebanon sebenarnya tidak menghargai dan menghormati UNIFIL. Karena, mereka tidak berpihak secara adil pada orang Lebanon. Tetapi, kami melakukan ini karena sangat menghormati Anda orang Indonesia," ujar salah seorang anggota Hizbullah.
Setelah kejadian itu, Chief of Cimic Sector Major Ferera mengucapkan terima kasih kepada Staff Cimic Indonesia atas bantuan penyelesaian masalah, termasuk perlindungan serta pengamanan terhadap Tim Recce Spanyol.
Editor : Ahmad Antoni