get app
inews
Aa Text
Read Next : Layanan Cuci Kendaraan Berbasis Teknologi Robotik Hadir di Semarang, Lebih Cepat dan Maksimal

Ecoprint Punya Peluang Besar Dikembangkan sebagai Industri Kreatif Unggulan Daerah

Jum'at, 24 April 2026 | 14:06 WIB
header img
Ecoprint yang dikembangkan Unnes tidak terbatas pada penggunaan daun dan bunga saja, melainkan memanfaatkan berbagai bagian tanaman termasuk ekstrak warna alami. (foto: istimewa)

SEMARANG, iNewsSemarang.id  -  Ecoprint yang dikembangkan di Universitas Negeri Semarang (Unnes) tidak terbatas pada penggunaan daun dan bunga saja, melainkan memanfaatkan berbagai bagian tanaman termasuk ekstrak warna alami yang berasal dari kulit, daun dan akar tanaman. 

Penegasan ini penting untuk menunjukkan bahwa ecoprint di Unnes berkembang sebagai inovasi yang menggabungkan kekayaan hayati lokal, eksplorasi zat warna alam, serta pendekatan ilmiah dan artistik dalam pengolahan tekstil ramah lingkungan. 

Salah satu kekhasan ecoprint yang dikembangkan di Unnes adalah pola motif tulang daun, yang telah menjadi paten Unnes. Selain itu, disebutkan  bahwa pelopor pengembangan ecoprint di Unnes adalah Dra. Widowati, M.Pd., yang telah berkontribusi besar dalam merintis dan mengembangkan inovasi ini.

Dalam kegiatan desiminasi kain ecoprint dan  diservikasi berbasis tanaman lokal dan zat pewarna alam yang mempertemukan unsur akademisi, pemerintah, pelaku usaha, UMKM, organisasi masyarakat, dan peserta umum ini menempatkan ecoprint bukan sekadar sebagai karya seni tekstil, melainkan sebagai bagian dari penguatan ekonomi hijau, industri kreatif, pemberdayaan masyarakat dan hilirisasi potensi lokal.

Melalui forum tersebut, peserta diajak melihat bahwa ecoprint memiliki dimensi yang luas: sebagai produk budaya, produk inovasi, media pemberdayaan masyarakat, sekaligus peluang usaha yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Saribua Siahaan, S.Sos., M.H., M.M., selaku Director of Investment Promotion for Southeast Asia, Australia, New Zealand, and the Pacific pada Ministry of Investment and Downstream Industry/BKPM, menjelaskan , pentingnya melihat produk berbasis potensi lokal seperti ecoprint dalam kerangka pembangunan ekonomi yang lebih luas.

Dia menekankan bahwa ecoprint dapat dikaitkan dengan penguatan UMKM, industri kreatif, ekonomi hijau, dan hilirisasi berbasis sumber daya lokal. 

"Dengan kekayaan biodiversitas Indonesia, produk seperti ecoprint memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi komoditas kreatif yang khas, bernilai tambah, dan berdaya saing," katanya  dalam keterangan Jumat (24/4/2026)

Menurutnya, pengembangan ecoprint akan semakin kuat apabila tidak berhenti pada kegiatan pelatihan atau komunitas semata, tetapi diarahkan menjadi bagian dari ekosistem usaha yang lebih matang. Hal ini mencakup penguatan kualitas produk, pengembangan model bisnis, pembentukan jejaring pasar, peningkatan kapasitas usaha, dan keterhubungan dengan kebijakan promosi investasi maupun kemitraan yang lebih luas. 

"Dengan demikian, ecoprint dapat diposisikan sebagai produk kreatif hijau yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga relevan dengan agenda pembangunan nasional," ujarnya.

Sementara, Agung Koenmarjono, S.H., selaku Kepala Bidang Pemberdayaan Industri pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, memaparkan  perspektif dari sisi pembinaan industri.

Dia mengatakan, ecoprint mempunyai peluang besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari industri kreatif unggulan daerah, terutama jika ditopang oleh pembinaan yang berkelanjutan, peningkatan mutu, penguatan legalitas, standardisasi produk, desain kemasan, dan strategi pemasaran yang tepat. 

"Pemberdayaan pelaku ecoprint harus diarahkan tidak hanya pada kemampuan memproduksi, tetapi juga pada kemampuan menjaga kualitas, kontinuitas, dan daya saing," ujarnya.

Dalam diskusi, ecoprint dipandang memiliki kekuatan pembeda yang khas, yaitu menggabungkan unsur seni, identitas lokal, keberlanjutan lingkungan, dan inovasi berbasis sumber daya alam.

Dengan demikian, pengembangan ecoprint di Unnes dinilai memiliki karakter yang kuat dan khas. Pemanfaatan daun, bunga, serta ekstrak warna dari kulit, daun, dan akar tanaman menunjukkan bahwa ecoprint tidak sekadar berhenti pada teknik dekoratif, tetapi berkembang sebagai bidang inovasi yang kaya secara ilmiah, artistik, dan ekonomis. 

Keberadaan motif tulang daun yang telah dipatenkan Unnes menjadi salah satu bukti bahwa inovasi lokal dapat memiliki nilai orisinalitas dan perlindungan kekayaan intelektual yang kuat. Dalam konteks ini, kontribusi Widowati sebagai pelopor pengembangan ecoprint di Unnes menjadi bagian penting dari perjalanan inovasi tersebut.

Unnes terus mendorong sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mengembangkan produk kreatif berbasis potensi lokal. Diharapkan, hasil diseminasi ini tidak berhenti pada forum ilmiah semata, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam bentuk program pendampingan, penguatan jejaring, hilirisasi inovasi, dan pemberdayaan masyarakat yang lebih konkret. 

Dengan dukungan berbagai pihak, ecoprint berpotensi menjadi salah satu identitas unggulan yang memperkuat posisi Unnes dalam pengembangan inovasi berbasis keberlanjutan.

Editor : Ahmad Antoni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut