Cerita di Balik Penciptaan Rekor Dunia Tari Kolosal dengan Peserta 1.550 Penari Kipas
SEMARANG, iNewsSemarang.id – Solo Menari 2026 menjadi saksi penciptaan rekor dunia tari kolosal Aku Kipas dengan peserta 1.550 penari kipas. Rekor tersebut tercatat dalam Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid).
Penciptaan rekor baru tari kolosal di ajang Solo Menari dalam rangka memperingati Hari Tari Sedunia ini digelar di kawasan Pasar Gede, Jalan Arifin dan Jalan Jenderal Sudirman, Kota Solo pada Rabu (29/4/2026).
Leprid pun memberikan penghargaan kepada Heru Mataya sebagai pemrakarsa, Pemerintah Kota Surakarta dan Dinas Pariwisata Pemkot Surakarta selaku penyelenggara, serta Museum Gubug Wayang sebagai pendukung.
Ada sosok yang ikut berperan dalam kesuksesan penyelenggaraan Solo Menari 2026 hingga terciptanya rekor dunia tari kolosal. Mereka adalah Kombes Pol Tri Suhartanto, penasihat Museum Gubug Wayang dan Heru Mataya, Direktur Program Solo Menari 2026.
Tri Suhartanto mengaku sangat bangga bisa menjadi bagian dari dalam kegiatan penciptaan Rekor Dunia Tari Kolosal Aku Kipas dengan peserta 1.550 penari kipas.

“Saya merasa terhormat karena dapat menjadi salah satu penerima penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (Leprid) dalam rangka rekor Solo Menari 2026,” ungkapnya di Semarang, Sabtu (2/5/2026).
Dia menyebutkan Museum Gubug Wayang sudah menerima 89 penghargaan Leprid, dan pada hari ini mendapatkan penghargaan Leprid yang ke 90.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Leprid atas penghargaan yang diberikan, serta kepada Pemerintah Kota Surakarta atas dukungan dan komitmennya dalam memajukan kebudayaan. Kami meyakini bahwa budaya memiliki kekuatan yang luar biasa,” ujarnya.
Menurutnya, budaya mampu menyatukan perbedaan, membangun rasa memiliki, dan menciptakan harmoni sosial. Dalam konteks yang lebih luas, inilah fondasi penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Penciptaan rekor ini, kata dia, bukan sekadar pencapaian angka, melainkan sebuah karya kolaboratif yang menunjukkan bahwa budaya memiliki kekuatan untuk menyatukan.
“Di balik ribuan penari yang bergerak serempak, terdapat nilai kebersamaan, disiplin, serta semangat gotong royong yang menjadi jati diri bangsa Indonesia,” tegas Kombes Tri Suhartanto.
Dia menilai, Surakarta (Solo) tidak hanya menjadi pusat pelestarian budaya, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi yang menjadikan budaya tetap hidup, relevan, dan membanggakan di tingkat nasional bahkan dunia.
“Kami dari Museum Gubug Wayang memaknai keterlibatan ini sebagai bagian dari komitmen untuk terus menjaga dan menghidupkan budaya. Bagi kami, budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga fondasi untuk membangun masa depan,” ujar Tri Suhartanto.
“Oleh karena itu, penghargaan ini bukan kami tempatkan sebagai titik akhir, melainkan sebagai amanah untuk terus berkontribusi, menguatkan peran budaya, menjangkau generasi muda, dan memastikan bahwa nilai-nilai luhur bangsa tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujarnya.
Sementara, Heru Mataya menjelaskan bahwa Solo Menari 2026 ini produk setiap tahun. Tahun ini mengambil tema kipas karena memang kipas di Indonesia cukup kuat dari Sabang sampai Merauke sebagai suatu upacara, kegiatan tari dan sebagainya.
“Tapi yang menarik, sebenarnya ini pertama kali satu festival yang menjadikan kipas sebagai tema di Indonesia. Ternyata kondisinya para pembuat kipas di Nusantara semakin lama semakin tergerus sebenarnya. Di Jawa Tengah ada di Polanharjo, di DIY ada di Bantul, sebenarnya di desa-desa itu kalau tidak ada pelestarian nanti juga akan punah,” ujar Heru.

“Festival ini sebenarnya mencoba bagaimana Solo Menari bisa menjadi ruang untuk melestarikan sekaligus mengkreasikan. Jadi di acara Solo Menari 2026 itu selain ada tari kolosal, ada pameran, workshop, pasar festival hingga pertunjukan,” imbuhnya.
Dia menyebutkan ada 70 grup se-Indonesia untuk menarikan kipas secara tradisi maupun kontemporer. “Untuk menari kolosal sendiri kita memang mengadakan open call, kalau pesertanya 1.550 mungkin 700 orang dari Soloraya, yang 800 se Indonesia. Jadi pesertanya bukan hanya dari Solo tapi se Indonesia. Mereka mendaftar kita kasih tutorial untuk menarinya, kita ajak ke Solo untuk latihan selama dua kali,” sebut Heru.
“Penarinya dari usia 4 tahun sampai 84 tahun, kita juga memberikan kesempatan teman-teman disabilitas ada 72 dari beberapa SLB di Solo. Yang menarik salah satu grup utamanya dari penyintas kanker ada 24 orang. Mungkin 60 persen bukan dari penari, melainkan dari PNS, buruh hingga guru,” ujarnya.
Menurutnya, Solo Menari 2026 sebenarnya selain untuk melestarikan kipas nusantara, juga memberikan kesempatan sebagi panggung inklusi, panggung semua orang.
Sebelumnya, Ketua Umum dan Pendiri Leprid sangat mengapreasi penciptaan rekor dunia tari kolosal Aku Kipas dengan peserta 1.550 penari kipas di ajang Solo Menari 2026 dalam peringatan Hari Tari Sedunia.
“Dengan menari kipas mengajak generasi muda peduli budaya seni dan juga ekonomi kreatif. Karena kipas ini dibuat secara khusus dengan cara yang unik, bambu atau kain,” kata Paulus.
“Uri-uri budaya ini harus kita dukung. Kegiatan ini menyatukan berbagai unsur kehidupan SARA. Intinya bahwa budaya itu menyatukan bangsa,” katanya.
Editor: Ahmad Antoni