Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ribuan Buruh Bakal Unjuk Rasa di Kantor Purbaya, Tuntut Pajak JHT Dihapus
Advertisement . Scroll to see content

8 Fakta Rupiah Anjlok Dekati Rp18.000, Gelombang Penutupan Pabrik hingga PHK di Depan Mata

Senin, 18 Mei 2026 | 11:06 WIB
  • author Dani Jumadil Akhir
8 Fakta Rupiah Anjlok Dekati Rp18.000, Gelombang Penutupan Pabrik hingga PHK di Depan Mata
Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS semakin melemah. (foto: MNC Portal)

JAKARTA, iNewsSemarang.id – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian melemah. Pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026), Rupiah melemah 64 poin atau 0,36 persen ke level Rp17.661 per dolar AS, seperti dikutip data Bloomberg.

Sebelumnya, nilai tukar Rupiah diproyeksikan masih berada dalam tekanan pada perdagangan pekan ini seiring penguatan indeks dolar AS, kenaikan harga minyak mentah dunia, serta meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Berikut fakta-faktanya:

1. Penyebab Utama Rupiah Anjlok 

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas Ibrahim Assu’aibi mengatakan Rupiah berpotensi melemah hingga ke level Rp17.800 sampai Rp17.850 per dolar AS apabila sentimen eksternal terus memburuk.

Dia menyebut penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Diperkirakan indeks dolar masih bergerak menguat pada pekan depan dengan rentang support di level 97,300 dan resistance di 101,100.

"Rupiah kemungkinan besar dalam perdagangan minggu depan (minggu ini) masih akan terus mengalami pelemahan. Bisa saja di level Rp17.800-an bahkan Rp17.850 per dolar AS," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).

2. Dampak Tensi Militer di Selat Hormuz

Faktor utama yang menekan pasar adalah meningkatnya tensi militer di Selat Hormuz. Latihan perang besar-besaran yang dilakukan Iran serta insiden tenggelamnya kapal kargo di lepas pantai Oman memicu kekhawatiran gangguan jalur perdagangan minyak global.

Selain itu, sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap perusahaan-perusahaan yang membantu transportasi minyak Iran semakin memperkeruh situasi. Ketegangan ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring kesiapan AS melakukan serangan terbuka di kawasan tersebut.

Dari sisi moneter AS, pasar mulai berekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat tidak akan menurunkan suku bunga pada 2026. Hal ini dipicu oleh tingginya inflasi dan lonjakan harga bensin di AS.

Kondisi tersebut membuat indeks dolar tetap berada pada posisi kuat, ditambah sentimen perang dagang antara AS dan Tiongkok.

Meskipun pasar domestik sedang tutup, Bank Indonesia (BI) dilaporkan terus memantau dan melakukan intervensi di pasar internasional guna meredam volatilitas. Ibrahim mencatat adanya pergerakan intervensi yang cukup efektif pada pagi ini.

“Artinya Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional. Mungkin nanti kita akan berbicara berbeda pada saat pembukaan pasar hari Senin (18/5),” jelas Ibrahim.

3. Rupiah Bisa Tembus Rp18.000 hingga Rp22.000

Ibrahim memperingatkan adanya potensi beban berat pada anggaran negara akibat tingginya subsidi bahan bakar minyak (BBM), mengingat 85 persen dari 1,5 juta barel minyak yang diimpor dialokasikan untuk kebutuhan subsidi.

Jika tekanan berlanjut, ia memprediksi rupiah bisa menembus level Rp18.000 hingga Rp22.000 dalam skenario terburuk. Sebagai langkah antisipasi, BI diperkirakan akan mengambil kebijakan agresif dalam pertemuan bulan depan.

“Cara satu-satunya ada kemungkinan besar Bank Sentral Indonesia dalam pertemuan bulan Juni ini akan menaikkan suku bunga, bisa 25 basis poin sampai 50 basis poin. Tujuannya untuk menstabilkan rupiah,” pungkasnya.

Namun demikian, Ibrahim menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid, didukung oleh kepemilikan domestik yang dominan (90 persen) pada instrumen obligasi negara.

4. Harga BBM Bisa Naik hingga PHK

Pelemahan Rupiah sangat berpengaruh terhadap bahan baku impor termasuk harga BBM nonsubsidi. Pasalnya Indonesia net importir minyak sejak 2004.

Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin Hamid Paddu menyikapi nilai tukar Rupiah yang terus anjlok. Pertengahan Mei, mata uang Rupiah tersebut memang menunjukkan tren yang semakin melemah. Bahkan pada 15 Mei, kurs Rupiah berada pada level Rp17.600 per USD.

Menurut Hamid, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang mencapai 1,6 juta barel per hari. Sementara, produksi Indonesia hanya 650 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari 50% kebutuhan harus dipenuhi melalui impor.

“Nah, impor tentu dibeli dengan nilai mata uang, valuta asing, dalam hal ini dolar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,” kata Hamid di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).

5. Industri Manufaktur Terpukul, Ongkos Pabrikan Meningkat

Di sisi lain, Rupiah yang anjlok menjadi pukulan telak bagi industri manufaktur Tanah Air. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku hingga barang modal impor membuat ongkos produksi pabrikan membengkak drastis di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kondisi tersebut tidak hanya disebabkan oleh selisih kurs semata. Rantai pasok global yang terganggu sejak meletusnya perang pada Februari lalu telah mengerek biaya logistik, asuransi, hingga harga komoditas penolong seperti plastik dan energi, yang pada akhirnya membebani operasional industri.

Tekanan berat yang menimpa sektor ini tercermin pada laju Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur Indonesia. Indikator aktivitas pabrik tersebut terus merosot dan pada akhirnya berbalik mengalami kontraksi pada April lalu.

Situasi pelik ini memaksa pabrikan memutar otak karena mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produk di pasaran. Daya beli masyarakat yang melemah membuat konsumen sangat sensitif terhadap perubahan harga.

“Jadi, pelemahan nilai tukar ini pada dasarnya memperumit kondisi industri pada saat ini. Artinya, dari sisi langkah kebijakan, stabilitas nilai tukar sangat krusial untuk meredam dampak eksternal terhadap ekonomi domestik,” kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, Sabtu (16/5/2026).

6. Berisiko Picu Gelombang Penutupan Pabrik

Jika dibiarkan tanpa intervensi perlindungan, tren pelemahan ini berisiko memicu gelombang penutupan pabrik. Pasalnya, kondisi setiap subsektor dalam industri manufaktur berbeda-beda dan tidak bisa disamaratakan.

Pemerintah diminta turun tangan dengan tidak menambah beban baru berupa pungutan pajak bagi sektor yang sedang terpuruk, seperti industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Kebijakan pemberian insentif yang selektif dan tepat sasaran dinilai dapat menjadi penyelamat bagi industri strategis yang menyerap banyak tenaga kerja.

“Kan industri manufaktur ini tidak bisa disamakan semuanya, ada yang masih bagus, ada yang sudah berdarah-darah. Jadi yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengantisipasi agar mereka tidak sampai bangkrut, kemudian melakukan PHK,” ujar Faisal.

7. Kondisi Ekonomi Beda dengan Krisis 1998

Di sisi lain, Purbaya meminta masyarakat tidak perlu panik mengenai kondisi nilai tukar Rupiah saat ini "Enggak (perlu panik). Karena pondasi ekonomi kita bagus, kita tahu betul kelemahan kita di mana, dan bisa kita betulin," ujar Purbaya.

Purbaya menegaskan, fondasi ekonomi Indonesia bagus dan percaya pemerintah dapat memperbaiki kondisi saat ini. Bahkan, dirinya menegaskan, kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis 1998.

"Kita enggak akan sejelek kayak tahun '98 lagi, enggak akan jelek malah. Dengan fondasi ekonomi yang kuat enggak terlalu sulit sebetulnya," tegasnya.

8. Purbaya Siap Bantu Jaga Rupiah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa siap membantu menjaga nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Namun, kata Purbaya proses penguatan nilai tukar Rupiah melalui intervensi pemerintah membutuhkan waktu. 

Purbaya menegaskan bahwa dukungan Kementerian Keuangan tidak dilakukan melalui intervensi langsung di pasar valuta asing, melainkan melalui penguatan pasar Surat Berharga Negara (SBN) atau bond market. Purbaya menilai bahwa stabilitas di pasar obligasi merupakan kunci agar tekanan terhadap mata uang Garuda tidak semakin dalam.

"Itu kan perlu waktu. Kita kan enggak masuk ke pasar dolar langsung. Tapi kita hanya menjaga stabilitas bond market," ujar Purbaya di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Langkah stabilisasi ini dilakukan secara perlahan guna memastikan imbal hasil obligasi tetap menarik bagi investor.  “Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti," katanya. 

Editor: Ahmad Antoni

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut