Anak SMP-SMK di Semarang Terpapar Ekstremisme via Game Online, DP3A: Keluarga Harus Jadi Ruang Aman
SEMARANG, iNewsSemarang.id - Ancaman ekstremisme berbasis kekerasan ternyata tidak lagi bergerak melalui jalur konvensional. Di era digital, paham radikal mulai menyusup diam-diam melalui media sosial, forum tertutup, bahkan game online yang akrab dimainkan anak-anak dan remaja.
Fenomena tersebut terungkap dalam kegiatan “Sosialisasi Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme melalui Pendekatan Keluarga” yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang.
Wakasat Intelkam Polrestabes Semarang Kompol Slamet Purnomo menyebutkan ada tiga pelajar SMP dan SMK di Kota Semarang yang sempat terpapar paham ekstremisme melalui game online.
“Mereka awalnya ditarik masuk ke grup tertentu, lalu mendapat doktrin secara bertahap. Paham ekstremisme sekarang masuk lewat ruang digital seperti game online yang dekat dengan anak-anak,” ungkap Slamet dalam keterangan Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, kelompok ekstrem memanfaatkan kondisi psikologis anak yang rentan, terutama mereka yang pernah mengalami kekerasan, memiliki luka emosional, atau menyimpan kebencian terhadap aparat maupun lingkungan sekitar.
“Anak-anak yang pernah menjadi korban kekerasan atau punya rasa marah dan kecewa lebih mudah dipengaruhi. Karena itu pendekatan keluarga sangat penting,” ujarnya.
Slamet menegaskan, pihak kepolisian melakukan pembinaan agar para pelajar tersebut dapat kembali ke lingkungan keluarga dan tidak lagi terpapar paham radikal.
Fenomena itu sekaligus memperlihatkan bagaimana ancaman ekstremisme kini bergerak secara masif di dunia digital. Dalam materi sosialisasi juga dijelaskan bahwa propaganda radikal menyebar cepat melalui algoritma media sosial, grup percakapan tertutup, hingga platform digital yang sulit diawasi.
Keluarga Benteng Utama Pencegahan Ekstremisme
Sementara itu, Sekretaris Yayasan Persadani Semarang yang juga mantan narapidana terorisme, Hadi Masykur, menekankan bahwa keluarga merupakan benteng utama pencegahan ekstremisme.
“Ancaman ekstremisme itu nyata dan sekarang penyebarannya sangat luas melalui internet. Orang tua, terutama ayah, jangan hanya sibuk mencari nafkah, tapi juga harus dekat dengan anak agar bisa mendeteksi perubahan perilaku sejak dini,” tegasnya.
Editor : Ahmad Antoni