Anak SMP-SMK di Semarang Terpapar Ekstremisme via Game Online, DP3A: Keluarga Harus Jadi Ruang Aman
Dia mengingatkan, komunikasi yang hangat di rumah menjadi kunci agar anak tidak mencari pelarian atau pengakuan dari kelompok luar yang berpotensi membawa pengaruh negatif.
“Tanamkan nilai agama yang damai, komunikasi yang baik, dan nasionalisme atau cinta tanah air. Anak yang merasa dicintai keluarganya biasanya tidak mudah mencari pengakuan di kelompok lain,” katanya.
Ia juga membagikan pengalaman pribadinya saat terpapar paham radikal. Menurut Hadi, peran ibu dan keluarganya menjadi faktor penting yang akhirnya membawanya kembali meninggalkan jalan ekstremisme.
“Yang menarik saya kembali justru keluarga. Penerimaan keluarga, lingkungan membuat saya bisa kembali berbaur menjalani kehidupan seperti biasa,” ungkapnya.
Perempuan dan Anak Jadi Kelompok Rentan Esktremisme
Sementara itu, Kepala DP3A Kota Semarang Dr. dr. Eko Krisnarto, Sp.K.K., menegaskan bahwa perempuan dan anak masih menjadi kelompok rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, termasuk yang mengarah pada ekstremisme.
Ia menegaskan Pemerintah Kota Semarang telah menerbitkan Peraturan Wali Kota Semarang Nomor 48 Tahun 2024 tentang Rencana Aksi Daerah Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme.
“Peraturan ini bukan sekadar dokumen hukum, melainkan kompas moral dan sosial untuk menjaga keamanan, kedamaian, dan masa depan generasi penerus,” ujar Eko.
Menurutnya, keluarga harus menjadi ruang aman pertama bagi anak untuk tumbuh dengan nilai toleransi dan cinta kebangsaan.
“Kita semua hadir bukan hanya sebagai peserta sosialisasi, tetapi sebagai penjaga masa depan anak-anak kita dan masa depan Kota Semarang,” ujarnya.
DP3A juga menekankan pentingnya deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak, mulai dari menjadi tertutup, mudah marah, anti terhadap kelompok lain, hingga aktif mengikuti grup tertutup yang mengarah pada propaganda radikal.
Editor : Ahmad Antoni