Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Platform Kripto Tak Hanya Cukup Transaksi Aman, Perlu Loyalitas kepada Member
Advertisement . Scroll to see content

Marak Nomor CS Palsu dan Phishing, Platform Pertukaran Aset Kripto Perkuat Edukasi Keamanan Digital

Kamis, 04 Juni 2026 | 19:43 WIB
  • author Ahmad Antoni
Marak Nomor CS Palsu dan Phishing, Platform Pertukaran Aset Kripto Perkuat Edukasi Keamanan Digital
Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Indonesia menghadapi sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025, meningkat 7 kali lipat dari rata-rata tahunan periode 2020-2024. (fotografis: istimewa)

JAKARTA, iNewsSemarang.id – Ancaman siber kini semakin banyak menyasar manusia dibanding sistem teknologi. Data dari Tiger Research menunjukkan bahwa social engineering menjadi penyebab 74,7% total kerugian akibat kejahatan siber, khususnya di industri Web3 pada kuartal pertama 2026, meningkat tajam dibandingkan 64,3% pada 2025. 

Modus yang digunakan antara lain adalah phishing, layanan pelanggan palsu, situs dan nomor telepon palsu, hingga tautan berbahaya yang menyerupai kanal resmi yang muncul di hasil pencarian internet.

Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Indonesia menghadapi sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025, meningkat 7 kali lipat dari rata-rata tahunan periode 2020-2024. Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat total kerugian akibat penipuan transaksi keuangan mencapai Rp9,1 triliun sejak 2024 hingga Januari 2026.

Merespons kondisi tersebut, INDODAX memperkuat edukasi keamanan digital melalui kampanye anti-phishing yang mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam memverifikasi informasi sebelum mengakses layanan digital atau menghubungi layanan pelanggan.

CEO INDODAX, William Sutanto, menegaskan bahwa pola kejahatan siber kini menunjukkan perubahan, jika sebelumnya pelaku berupaya membobol sistem teknologi, kini mereka lebih banyak memanfaatkan kelengahan pengguna untuk memperoleh akses terhadap akun dan informasi pribadi.

“Saat ini pelaku kejahatan tidak selalu berusaha membobol sistem yang kompleks. Mereka justru mencari cara yang lebih mudah, yaitu memanipulasi pengguna agar secara sukarela memberikan akses akun, kode OTP, atau informasi pribadi melalui tautan maupun nomor palsu. Karena itu, literasi keamanan digital harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat,” jelasnya, Kamis (4/6/2026).

Dia mengungkapkan, salah satu modus yang semakin sering ditemukan adalah penyalahgunaan mesin pencari untuk menampilkan nomor layanan pelanggan palsu, situs tiruan, maupun tautan berbahaya yang menyerupai kanal resmi perusahaan.

Editor: Ahmad Antoni

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut