Perkuat Daya Saing, 200 UMK Ikuti Pelatihan Program Digital Camp di BBPVP Semarang
SEMARANG, iNewsSemarang.id - Transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bagi pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) agar mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah persaingan ekonomi yang semakin kompetitif.
Berangkat dari semangat tersebut, Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Semarang menggelar program unggulan Digital Camp “SDM UMK Go Up”, sebuah inisiatif yang dirancang untuk memperkuat daya saing UMK melalui edukasi literasi keuangan dan digital.
Sebanyak 200 pelaku UMK dari berbagai sektor mengikuti pelatihan yang berlangsung di lingkungan BBPVP Semarang. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan keuangan usaha yang sehat, pemanfaatan teknologi digital, hingga strategi pemasaran berbasis media sosial dan platform digital.
Program ini tidak berhenti pada pemberian materi di dalam kelas. BBPVP Semarang juga menyiapkan proses kurasi untuk memilih 20 UMK terbaik yang akan memperoleh pelatihan lanjutan berupa digital marketing, akses permodalan, hingga pendampingan peningkatan produktivitas melalui bimbingan para instruktur produktivitas berpengalaman.
Melalui sesi mentoring secara langsung, peserta diajak mempraktikkan digitalisasi usaha mereka, mulai dari penggunaan sistem pembayaran digital, penyusunan laporan keuangan yang akuntabel, hingga membangun strategi promosi yang efektif.
Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata sehingga ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan dalam pengembangan usaha masing-masing.
Kepala BBPVP Semarang, Fikri Kurniakiki menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi faktor paling menentukan dalam keberhasilan transformasi UMK di era digital.
“Kami ingin para pelaku UMK tidak hanya memahami teori, tetapi benar-benar mampu mengimplementasikan teknologi digital dan tata kelola keuangan yang baik dalam usahanya. SDM yang unggul akan melahirkan usaha yang lebih produktif, adaptif, dan memiliki daya saing tinggi,” jelas Fikri, Kamis (2/7/2026).
“Melalui Digital Camp ‘SDM UMK Go Up’, BBPVP Semarang berkomitmen menghadirkan pelatihan yang aplikatif sehingga UMK mampu naik kelas dan membuka peluang pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan dunia usaha saat ini bukan hanya menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga kemampuan mengelola bisnis secara profesional dan memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang pertumbuhan.
“Digitalisasi bukan lagi tren, melainkan kebutuhan. Kami ingin para pelaku UMK percaya diri memanfaatkan pembayaran digital, pemasaran melalui media sosial, hingga pencatatan keuangan yang tertib. Ketika dua aspek ini berjalan seiring, UMK akan memiliki fondasi yang kuat untuk berkembang secara berkelanjutan,” tambahnya.
Program Digital Camp juga menjadi bentuk nyata komitmen BBPVP Semarang dalam mendukung agenda pemerintah meningkatkan kualitas SDM Indonesia melalui pelatihan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan ekonomi digital.
Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi bagi para pelaku UMK untuk saling belajar, berbagi pengalaman, sekaligus membangun jejaring bisnis yang berpotensi memperluas pasar mereka di masa mendatang.
Dengan sinergi antara literasi keuangan yang sehat, kemampuan digital yang terus berkembang, serta pendampingan berkelanjutan, BBPVP Semarang optimistis akan lahir semakin banyak UMK yang mampu naik kelas, menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat ekonomi lokal, dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.
Digital Camp “SDM UMK Go Up” menjadi bukti bahwa investasi terbaik bagi masa depan UMK bukan hanya pada modal usaha, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Dari Semarang, semangat transformasi itu terus tumbuh, membawa harapan baru bagi lahirnya pelaku usaha yang tangguh, inovatif, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.
Fikri menegaskan bahwa tujuan utama dari program Digital Camp “SDM UMK Go Up” bukan hanya meningkatkan kapasitas pelaku usaha, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Tujuan akhir dari program ini adalah terciptanya perluasan kesempatan kerja seiring dengan berkembang dan membesarnya usaha para UMK yang mengikuti program. Ketika usaha mereka naik kelas, produktivitas meningkat, omzet bertambah, dan kebutuhan tenaga kerja juga akan semakin besar,” ujar Fikri.
Staf Ahli Bidang Ekonomi Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan, Aris Wahyudi menegaskan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi investasi jangka panjang yang akan menentukan daya saing UMK Indonesia.
Menurutnya, pelaku usaha yang memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan baik serta memanfaatkan teknologi digital akan lebih siap menghadapi perubahan pasar dan mampu menciptakan nilai tambah bagi produknya.
Ia menambahkan, keberhasilan sebuah program pelatihan tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan setelah pelatihan selesai.
“Kami berharap para peserta mampu meningkatkan omzet, memperluas jaringan pemasaran, dan membuka peluang usaha baru. Ketika usaha berkembang, akan muncul kebutuhan tenaga kerja tambahan. Inilah efek berantai yang ingin kita ciptakan, yakni peningkatan produktivitas yang bermuara pada terciptanya lapangan kerja dan penguatan ekonomi masyarakat,” jelas Aris.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, serta sektor keuangan menjadi kunci keberhasilan dalam membangun ekosistem UMK yang berkelanjutan. Ia optimistis Digital Camp: “SDM UMK Go Up“ yang diinisiasi BBPVP Semarang dapat menjadi contoh praktik baik (best practice) dalam pengembangan SDM berbasis kebutuhan industri.
“Kami berharap program ini menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai daerah sehingga semakin banyak UMK Indonesia yang naik kelas, mampu bersaing di pasar nasional maupun global, sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” ujarnya.
Editor : Ahmad Antoni