Kisah Inspiratif Kombes Slamet Loesiono, Ubah Limbah Jadi Produk Bernilai lewat Proyek Perubahan
“Saya ingin proyek perubahan ini memiliki keberlanjutan. Artinya, tidak hanya menghasilkan produk Eco Enzyme, tetapi membangun ekosistem dari hulu sampai hilir, mulai dari perubahan perilaku, pengelolaan limbah, proses produksi, sampai bagaimana hasilnya dapat dimanfaatkan dan memberikan nilai ekonomi,” jelasnya.
Bagi Kombes Pol Slamet, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun karakter kepemimpinan Polri yang lebih visioner dan adaptif terhadap tantangan masa depan.
“Polisi masa depan harus memiliki perspektif yang lebih luas. Mereka tidak hanya dituntut mampu menjaga keamanan, tetapi juga memahami persoalan sosial, ekonomi dan lingkungan yang berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, green leadership harus menjadi bagian dari karakter pemimpin Polri ke depan,” ungkapnya.
Melalui Ekspresi Hijau, Kombes Pol Slamet menargetkan terbentuknya “Ksatrian Tanpa Sampah” atau Zero-Waste Ksatrian, sekaligus membangun budaya baru di lingkungan pendidikan Polri yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Dalam jangka panjang, proyek perubahan ini diharapkan dapat melahirkan Green Police, yaitu personel Polri yang memiliki kesadaran ekologis dan mampu menjadi agen perubahan dalam mendorong masyarakat menerapkan pola hidup berkelanjutan.
Tidak berhenti di lingkungan pendidikan Polri, inovasi tersebut juga diarahkan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya petani dan pelaku perkebunan melalui alternatif pupuk organik cair yang terjangkau.
“Ukuran keberhasilan proyek perubahan ini bukan hanya berapa banyak limbah yang berhasil kita olah, tetapi seberapa jauh terjadi perubahan perilaku dan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan. Kalau peserta didik berubah mindset-nya, lingkungan menjadi lebih baik, dan masyarakat mendapatkan manfaat, maka di situlah nilai dari proyek perubahan ini,” ujar Kombes Slamet
Ekspresi Hijau menjadi representasi sebuah proyek perubahan yang berangkat dari gagasan kepemimpinan, kemudian diterjemahkan menjadi inovasi nyata: mengubah limbah menjadi nilai, mengubah perilaku menjadi budaya, dan mengubah pendidikan menjadi kekuatan untuk membangun ketahanan lingkungan dan pangan.
Editor: Ahmad Antoni