Aksi Kocak Punokawan Hibur Warga Bulusan Semarang, Kritik Realita tapi Sarat Muatan Pesan Moral
SEMARANG, iNewsSemarang.id – Kocak dan kritis tapi sarat muatan pesan moral. Begitulah aksi Punokawan dalam Pentas Seni perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Literasi, RT 04 RW V, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Sabtu (15/8/2026) malam.
Punokawan yang diperankan oleh bapak-bapak warga setempat tampil menghibur warga. Dalam aksinya, mereka menyelipkan kritik terhadap berbagai kondisi sosial, ekonomi, dan politik dalam negeri.
Dalam pentas bertajuk Bagong Mbalelo, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong menjadi simbol kritis terhadap kondisi negeri Astina, yang sedang mencanangkan misi Menuju Astina Emas 2045. Bagong, salah satu ikon dalam Punokawan yang dijadikan lakon pada pementasan dagelan malam itu.

Agus PJ, penulis skenario sekaligus sutradara pementasan Punokawan Bagong Mbalelo mengungkapkan, realita di negeri Astina mulai mengusik ketenangan jiwa Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.
"Sebenarnya cerita ini adalah sebuah cerita rakyat yang mana kejadiannya sehsri-harinkita lihat dan kita alami di lingkungan kita masing-masing. Warga atau rakyat kecil yang dipersonifikasikan oleh Punokawan, kumpul kumpul sambil minum kopi di warung angkringan, mencermati situasi yang berkembang di negara dan masyarakat, tentang ekonomi, sosial, dsn politik. Ini kita tuangkan di drama komedi satire Punokawan kontemporer yang kita pentaskan malam ini," ungkap Agus PJ.
Menurutnya, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong memiliki ciri dan cara masing-masing-masing menyikapi kondisi Astina dengan karakter masing-masing.
Semar yang diperankan Agus Riyanto, merupakan perwujudan dewa, memiliki karakter memberikan nasihat atau wejangan-wejangan atas berbagai carut marut di negeri Astina.
Gareng yang diperankan oleh Rustam, kakinya pincang ketika berjalan, merupakan simbolisasi kritik terhadap berbagai kepincangan kehidupan sosial, ekonomi, politik maupun kepincangan keadilan di negeri Astina.

Petruk yang diperankan oleh Luthfi lebih mengedepankan menggunakan plesetan atas istilah-istilah program pemerintah Astina. Ada PBG yaitu pembagian Pakan Bergizi Gratis, Jampidsus, penemuan emas antum yang disimpan oleh pejabat Astina, dan lainnya.
Namun yang lebih vulgar atau blak-blakan dalam mengkritisi kondisi Astina adalah Bagong yang diperankan oleh Ahmad Antoni. Ini sesuai karakter Bagong yang ceplas ceplos tanpa tedeng aling-aling dalam menyampaikan berbagai pendapat juga sikap Bagong yang mbalela kepada pemerintah.
Contohnya, Bagong bersikap acuh, karena melihat PBG di negeri Astina tidak tepat sasaran. Ini terlihat dari pendapat Bagong terhadap pembagian PBG. Ketika beberapa anak berseragam sekolah dasar (SD) dimunculkan dalam cerita tersebut, masing-masing membawa ompreng makanan PBG. Ada anak yang kurus, juga ada anak yang gemuk.
Bagong pun berpendapat, program PBG belum baik karena masih banyak anak yang kurus. Bagong juga melihat ada pejabat memiliki simpanan emas antum, sedangkan rakyat banyak yang miskin. Juga banyak pejabat menghambur-hamburkan uang, penguasa hidup mewah dari pungutan pajak yang mencekik, sementara rakyat kecil hidup sengsara.
Maka Bagong pun mbalela terhadap pemerintah Astina yang tidak adil dan tidak merata pembangunannya. Dia juga mbalela terhadap pejabat yang korup. Ini mengandung arti, Bagong tidak mau tunduk kepada penguasa yang serakah dan tidak adil.
Pementasan menjadi segar dan penuh canda tawa. Penonton antusias dan berulangkali meledak gelak tawa, atas ulah para Punokawan.

Berulangkali pada Punokawan membuat kesalahan dengan tingkah lucu di luar skenario, yang membuat Arief Maulana selaku sutradara alias dalangnya kewalahan dan kebingungan sendiri.
Meski demikian, secara keseluruhan pementasan Punokawan Bagong Mbalela ini, meski terlihat konyol namun sarat muatan pesan moral.
Editor : Ahmad Antoni