get app
inews
Aa Text
Read Next : Aktivasi Kemerdekaan dan Tebus Murah Sembako di 7 SPBU Jateng-DIY Warnai Perayaan HUT Ke-81 RI

Cerita di Balik Pementasan Punokawan di Bulusan Semarang, Rutin Latihan tapi Ambyar di Panggung

Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:47 WIB
header img
Penampilan Punokawan Bagong Mbalelo dalam acara Malam Tasyakuran dan Pentas Seni di Lapangan Literasi Bulusan Semarang. (Foto: Istimewa)

SEMARANG, iNewsSemarang.id – Pentas Seni dalam menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di wilayah RT 04 RW V, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, untuk pertama kalinya menampilkan dagelan Punokawan. Dalam pementasan tersebut mengambil lakon Bagong Mbalelo.

Meski berhasil menghibur ratusan warga yang hadir di Lapangan Literasi pada Sabtu (15/8/2026) malam, ada cerita menarik di balik penampilan Punokawan yang diperankan oleh bapak-bapak warga setempat.

Meski ide pementasan Punokawan muncul secara spontan, persiapan telah dilakukan sekitar sebulan sebelum pentas. Hal pertama yang dilakukan adalah langsung menyewa kostum Punokawan. Hal itu dilakukan mengantisipasi ramainya persewaan baju di saat momen Agustusan.

Langkah selanjutnya merumuskan skenario cerita. Nah, Ketua Panitia Agustusan, Hendrik Kurniawan mengaku kesulitan untuk menentukan skenario cerita apa yang tepat untuk disuguhkan dalam pementasan.

Seiring berjalannya waktu, ide skenario pun datang dari Agus PJ. Tak butuk waktu lama, Agus PJ yang juga salah seorang sesepuh di RT 4, menyampaikan draf skenario cerita Punokawan dengan mengusung lakon Bagong Mbalelo.

Lantas, panitia pun berburu mencari personel yang cocok untuk memerankan tokoh-tokoh Punokawan seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Tak mudah untuk menentukan siapa yang cocok dan sesuai karakter masing-masing tokoh Punokawan.

Tokoh Semar diperankan oleh Agus Riyanto, Gareng oleh Rustam, Petruk oleh Luthfi dan Bagong oleh Ratman. Mereka pun menggelar pertemuan awal dengan dipimpin Agus PJ sekaligus sebagai sutradara. Dalam pertemuan itu membahas konsep pementasan hingga tata layout panggung.

Namun hal tidak terduga terjadi saat Agus PJ menyampaikan draf skenario cerita ke masing-masing pemeran Punokawan. Tiba-tiba Ratman mengajukan pengunduran diri keberatan memerankan Bagong.

“Duh Pak, saya pusing baca dialog cerita dalam skenarionya. Terus terang saya nggak bisa tidur harus menghafalkan ini. Nuwunsewu (maaf) ya Pak,” ungkapnya. Alasan serupa juga disampaikan Ratman kepada ketua panitia Agustusan melalui WhatsApp (WA).

Awalnya, Hendrik Kurniawan dan Arief Maulana dipandang cocok untuk menggantikan Ratman sebagai Bagong. Namun Hendrik didaulat untuk memerankan Penguasa, sedangkan Arief ditunjuk sebagai Dalang. 

Pilihan pun jatuh pada Ahmad Antoni. “Sudah jenengan saja yang jadi Bagongnya. Saya yakin bisa, karena setiap hari tahu perkembangan isu berita terkini,” ucap Agus PJ.

Latihan pun digelar dua kali dalam seminggu. Sehari jelang pementasan dilakukan geladi bersih di panggung. Beberapa jam sebelum tampil di hari H pada Sabtu malam, siang hari para pemeran Punokawan mendapatkan briefing dari sutradara.

Agus PJ menjelaskan bahwa penampilan Punokawan dalam lakon Bagong Mbalelo menggambarkan realita di negeri Astina mulai mengusik ketenangan jiwa Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. 

"Sebenarnya cerita ini adalah sebuah cerita rakyat yang mana kejadiannya sehsri-harinkita lihat dan kita alami di lingkungan kita masing-masing. Warga atau rakyat kecil yang dipersonifikasikan oleh Punokawan, kumpul kumpul sambil minum kopi di warung angkringan, mencermati situasi yang berkembang di negara dan masyarakat, tentang ekonomi, sosial, dsn politik. Ini kita tuangkan di drama komedi satire Punokawan kontemporer," ungkapnya. 

Pementasan pun penuh dengan muatan kritis untuk mencermati realita yang sedang terjadi di negeri ini. Punokawan menyampaikan kritik akan berbagai kondisi sosial, ekonomi, dan politik dalam negeri. 

Semar, Gareng, Petruk dan Bagong menjadi simbol kritis terhadap kondisi negeri Astina, yang sedang mencanangkan misi Menuju Astina Emas 2045.  Mereka memiliki ciri dan cara masing-masing-masing menyikapi kondisi Astina dengan karakter masing-masing. 

Semar yang diperankan Agus Riyanto, merupakan perwujudan dewa, memiliki karakter memberikan nasihat atau wejangan-wejangan atas berbagai carut marut di negeri Astina. 

Gareng yang diperankan oleh Rustam, kakinya pincang ketika berjalan, merupakan simbolisasi kritik terhadap berbagai kepincangan kehidupan sosial, ekonomi, politik maupun kepincangan keadilan di negeri Astina. 

Petruk yang diperankan oleh Luthfi lebih mengedepankan menggunakan plesetan atas istilah-istilah program pemerintah Astina. Ada PBG yaitu pembagian Pakan Bergizi Gratis, Jampidsus, penemuan emas antum yang disimpan oleh pejabat Astina, dan lainnya. 

Namun tanpa tedeng aling-aling (terbuka) dalam mengkritisi kondisi Astina adalah Bagong yang diperankan oleh Ahmad Antoni. Ini sesuai karakter Bagong yang ceplas ceplos dalam menyampaikan berbagai pendapat, juga sikap Bagong yang mbalela kepada pemerintah. 

Contohnya, Bagong bersikap acuh, karena melihat PBG di negeri Astina tidak tepat sasaran. Ini terlihat dari pendapat Bagong terhadap pembagian PBG. Ketika beberapa anak berseragam sekolah dasar (SD) dimunculkan dalam cerita tersebut, masing-masing membawa ompreng makanan PBG. 

Ada anak yang kurus, juga ada anak yang gemuk. Bagong pun berpendapat, program PBG belum baik karena masih banyak anak yang kurus.  Bagong juga melihat ada pejabat memiliki simpanan emas antum, sedangkan rakyat banyak yang miskin. Juga banyak pejabat menghambur hamburkan uang, penguasa hidup mewah dari pungutan pajak yang mencekik, sementara rakyat kecil hidup sengsara. 

Maka Bagong pun mbalelo terhadap kebijakan pemerintah Astina yang tidak adil dan tidak merata pembangunannya. Dia juga mbalela terhadap pejabat yang korup.  Ini mengandung arti, Bagong tidak mau tunduk kepada penguasa yang serakah dan tidak adil. 

Pementasan menjadi segar dan penuh canda tawa. Penonton pun antusias dan berulangkali meledak gelak tawa, atas ulah para Punokawan. 

Berulangkali para Punokawan membuat kesalahan dengan tingkah lucu di luar skenario, yang membuat sang Dalang kewalahan dan kebingungan sendiri. “Sek..sek (sebentar, sebentar) kayake ini di luar skenario,” ucap Arief yang disambut tawa penonton.

Meski demikian, secara keseluruhan pementasan Punokawan Bagong Mbalelo, meski terlihat konyol namun sarat muatan pesan moral terhadap masyarakat terutama generasi muda.
 

Editor : Ahmad Antoni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut