Stres Tak Selalu Berarti Gangguan Jiwa, Dokter Ungkap Perbedaan dan Cara Mengatasinya
SEMARANG, iNewsSemarang.id – Stres tidak selalu berarti gangguan jiwa, tapi jika mengalami stres berat yang berlangsung lama hendaknya perlu diperhatikan.
dr. Alifiati Fitrikasari, Sp. KJ (K) menjelaskan bahwa stres adalah reaksi tubuh dan pikiran saat menghadapi tekanan atau perubahan. Menurutnya, tres bisa muncul kepada siapa saja.
“Dalam kadar tertentu, stres bisa memicu semangat dan motivasi. Stressor bisa sebagai penyebab sakit, penyebab kekambuhan sakit atau bermakna apa-apa,” jelas dr Alifiati saat berbicara dalam Talkshow bertemakan Stres dan Gangguan Jiwa Auditorium SMC RS Telogorejo Semarang, Kamis (3/9/2026).
Dia menyebutkan berbagai cara dalam mengatasi stress. Diantaranya, dengan melakukan istirahat yang cukup, olahraga ringan, bicara dengan orang terpercaya.
“Selain itu sebisa mungkin mengatur waktu prioritas, melakukan relaksasi atau hobi, dan kurangi konsumsi berita atau media sosial berlebihan,” ungkapnnya.
Sementara gangguan jiwa, kata dia, merupakan kondisi yang mempengaruhi perasaan, pikiran dan perilaku seseorang. Kondisi ini dapat mengganggu pekerjaan, belajar, hubungan sosial, dan kehidupan sehari-hari
Lantas, apa perbedaan stress dan gangguan jiwa? “Stres reaksi terhadap tekanan dan bisa membaik dengan istirahat, dukungan dan pengelolaan yang tepat,” ujar Alifiati.
“Gangguan jiwa kondisi yang lebih menetap dan berdampak pada fungsi hidup sehari-hari. Stres tidak selalu berarti gangguan jiwa, tapi stress berat yang berlangsung lama perlu diperhatikan,” ujarnya.
Menjaga kesehatan jiwa di era digital perlu menjadi perhatian masyarakat saat ini. Apalagi, penggunaan gadget hampir dilakukan setiap hari.
Namun ada hal yang perlu diperhatikan, kapan gadget digunakan, alasan menggunakannya, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
dr Novalia Kuntardjo MBiomed SpKJ mengingatkan pentingnya membangun pola penggunaan teknologi yang lebih sehat.
“Lingkungan digital memiliki banyak manfaat. Mulai dari memudahkan komunikasi dan membangun koneksi sosial, mendukung proses belajar dan akses informasi, hingga membuka akses terhadap layanan kesehatan,” kata dr Novalia.
Tapi yang harus diperhatikan, penggunaan teknologi juga dapat berdampak pada berbagai risiko. Di antaranya distraksi akibat information overload, paparan konten berbahaya, penggunaan yang sulit dikontrol hingga gangguan tidur.
“Saya berharap masyarakat tidak semata-mata berpatokan pada durasi penggunaan gadget. Penggunaan media sosial, misalnya, perlu dilihat dari konteks dan pola pemakaiannya,” ujarnya.
Termasuk memperhatikan kemungkinan paparan cyberbullying maupun konten yang berdampak negatif terhadap kondisi psikologis.
dr Novalia juga mengingatkan bahwa penggunaan media sosial tidak serta-merta dapat disebut sebagai penyebab depresi. “Bukti ilmiah menunjukkan hubungan antara penggunaan media sosial secara umum dengan depresi dan kecemasan relatif kecil,” ujarnya.
Sebaliknya, lanjut dia, penggunaan media sosial yang sudah bersifat problematik memiliki hubungan yang lebih konsisten dengan depresi, kecemasan, hingga gangguan tidur.
Editor : Ahmad Antoni