Kisah Inspiratif Wahid Abdulrahman, Dosen Undip Raih Gelar Doktor di Jerman usai Teliti Santri

Ahmad Antoni
Wahid Abdulrahman, Dosen Ilmu Politik dan Pemerintahan FISIP Undip Semarang. (Ist)

SEMARANG, iNewsSemarang.idKisah inspiratif datang dari Wahid Abdulrahman, Dosen Ilmu Politik dan Pemerintahan FISIP Undip Semarang. Dia berhasil jadi kandidiat doktor ilmu politik di Southeast Asian Studies Goethe University Frankfurt Germany.  

Hal itu tak lepas dari salah satu temuan penting dari disertasi terkait fenomena menarik eksistensi Jaringan Santri di Indonesia.

Ya, santri tidak hanya berperan besar di pemilu ketika mampu menjadi mesin pemenangan yang efektif. Namun juga kemampuannya dalam membangun keberlanjutan (continuity) dan pengaruh kebijakan pascapemilu. 

Dari penelitian santri, Wahid mengangkat tema disertasi dengan  judul "The Santri Networks and The Islamic Political Turn in Indonesia". Disertasi tersebut lolos uji 5 Profesor di Jerman, pada 19 Februari 2025. 

Penelitian jaringan santri dan peranya dalam politik itulah yang mengantarkan Wahid menjadi doktor. Kini, nama lengkapnya Dr. Wahid Abdulrahman, S.IP., M.SI., Ph.D.

"Sejak Pilgub 2018, Pilpres 2019, pandemic Covid, hingga Pemilu 2024, jaringan santri mampu eksis dan memiliki peran vital," katanya dikutip Kamis (27/2/2024). 

Penelitian tersebut dilakukan oleh Wahid Abdulrahman sejak November 2020 hingga Februari 2024. Setelah Pemilu berakhir sebagai syarat penyelesaian program doctoral di Southeast Asian Studies Goethe University Frankfurt Germany. Dengan mengambil dua studi kasus jaringan santri yang masif, yakni Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) dan Santri Gayeng Nusantara (SGN). 

Pengamat politik muda ini mengatakan, pada 2019 JKSN tidak saja berkembang di Indonesia. Tetapi juga di sejumlah negara seperti Malaysia, Hongkong, Taiwan, Mesir, dan Arab Saudi. JKSN menjadi salah satu kunci penting kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019, dan Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.

Sementara SGN meski baru berkembang di Jawa Tengah, jaringan ini memiliki kekuatan pada konsistensi gerakan dengan ikatan kuat antara santri dengan kiai. Dan secara khusus diperkuat dengan ikatan pesantren. 

"Di pemilihan gubernur 2018, pemilihan presiden 2019, dan pemilu 2024, kedua jaringan santri tersebut memiliki peran penting dalam mobilisasi, kampanye, dan pendanaan untuk mendukung kandidat," ujarnya. 

Secara praktis, eksistensi jaringan santri memberikan manfaat tidak saja bagi santri dan pesantren. Namun juga bagi organisasi keagamaan, organisasi alumni pesantren, kandidat dalam pemilu, pemerintah, dan penyelenggara pemilu. 

Bagi organisasi keagamaan, jaringan santri adalah kanal politik yang dapat digunakan untuk menyalurkan aspirasinya sekaligus memperjuangkan kandidat yang diusung. Sementara mereka masih bisa menjaga independensinya sebagai organisasi sosial keagamaan. 

Jaringan santri, jelas Wahid, akan menjadi salah satu penentu kualitas demokrasi di Indonesia. Melalui semangat kesukarelaan (volunteerism) jaringan santri menunjukkan fenomena yang kontras dengan politik uang (money politics). 

"Ketika perilaku pemilih banyak  dipengaruhi oleh politik uang, sebaliknya melalui jaringan, para santri justri berkorban secara materi, pikiran, dan tenaga dalam pemilu," ujarnya.

Dia menambahkan, dalam perspektif relasi antara Islam dan demokrasi, penelitian ini semakin memperkuat gagasan bahwa Islam di Indonesia kompatibel dengan demokrasi. Bahkan keduanya saling memperkuat. 

Santri di Indonesia adalah Muslim Demokrat yang memiliki komitmen terhadap demokrasi. Kebangkitan Islam Politik (The Islamic Political Turn) yang terjadi sejak 2016 menempatkan santri pada posisi politik yang semakin strategis. Tidak saja ketika pemilu (electoral impact), namun juga paska pemilu (policy impact). 

"Berbagai kebijakan pemerintah pusat maupun daerah terbukti memberikan perhatian besar terhadap santri dan pesantren. Hampir semua kementerian dan BUMN memiliki program untuk santri dan pesantren," jelas pengamat politik yang lagi naik daun ini. 

Anggota Tim Transisi gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wakil gubernur Gus Yasin ini menjelaskan, secara teoritis, penelitian ini membawa kebaruan (novelty) dalam konsep jaringan politik (political network). Jika selama ini jaringan politik lebih banyak ditentukan dan dianalisis melalui tiga konsep: actor sentral (centrality), faktor pembentuk (community), dan hubungan antar aktor (connectivity), maka melalui jaringan santri di Indonesia menunjukkan dimensi budaya (culture) dan keberlanjutan (continuity). 

Menurutnya, budaya santri dan pesantren kuat dalam membentuk model dan cara kerja jaringan. Budaya kolektivitas santri, serta ketaatan santri terhadap kiai dan keluarga pesantren menjadi faktor kuat eksistensi jaringan. Keberlanjutan jaringan ditentukan oleh aktor sentral dan orientasi jaringan. 

"Penelitian ini juga semakin memperkuat bukti model mobilisasi dalam pemilu dengan karakter ikatan tradisional (traditional ties), antara followers dan leaders karena tradisi keagamaan sebagaimana diungkapkan oleh Samuel Huntington dan Joan M Nelson," ujarnya.
 

Editor : Ahmad Antoni

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network