Dari sembilan objek wisata itu, Kota Lama Semarang mencatat kunjungan wisatawan lebih tinggi dibandingkan yang lain. Dengan total jumlah kunjungan mencapai 222.856 orang. Selanjutnya, Masjid Agung Demak 124.363 orang, dan Candi Prambanan 94.858 orang.
Hanung menerangkan, destinasi wisata berbasis kawasan kota dan ikon budaya, menjadi pilihan utama wisatawan. Wisatawan kini cenderung memilih lokasi yang menawarkan pengalaman visual dan spot menarik untuk dokumentasi.
“Terjadi pergeseran dari wisata alam ke wisata urban dan ikon destinasi. Selain itu, wisatawan juga lebih mencari pengalaman yang kuat secara visual,” jelasnya.
Fenomena itu, terang Hanung, dikenal sebagai visual tourism, di mana wisatawan memilih destinasi yang instagramable, dan memiliki nilai estetika tinggi untuk dibagikan di media sosial.
Menurutnya, data juga menunjukkan lonjakan kunjungan mulai terjadi sejak H-1, hingga puncaknya di H+2. Hal tersebut menunjukkan, masa libur pascalebaran masih menjadi waktu favorit masyarakat untuk berwisata.
Selain perubahan selera wisatawan, faktor klimatologi turut memengaruhi pergerakan kunjungan. Cuaca yang kurang bersahabat di sejumlah daerah pegunungan, membuat wisatawan beralih ke destinasi yang lebih aman dan nyaman.
Ke depan, Disbudparekraf Jateng menilai, pentingnya pengelola destinasi wisata untuk beradaptasi dengan tren baru ini. “Penguatan konsep experience dan visual menjadi kunci untuk menarik wisatawan, terutama generasi muda,” ujarnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
