“Kami sedang menyiapkan berbagai fasilitas ramah perempuan dan anak. Prinsip utamanya adalah menciptakan kesetaraan dan rasa aman bagi semua,” jelas Agustina.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun budaya saling menghormati, termasuk dalam komunikasi sehari-hari. Menurutnya, candaan yang kurang tepat bisa berpotensi menjadi bentuk pelecehan jika tidak dijaga.
“Hal-hal kecil seperti cara berbicara harus diperhatikan. Kita ingin lingkungan yang saling menghargai, terutama bagi perempuan,” ujarnya.
Di sisi lain, pemberdayaan ekonomi perempuan juga menjadi fokus utama. Pemerintah Kota Semarang mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang sebagian besar dijalankan perempuan agar bisa naik kelas.
“Kami melihat banyak pelaku UMKM adalah perempuan. Mereka akan kami dorong agar lebih mandiri, berkembang, dan memiliki pasar yang berkelanjutan,” ujarnya.
Pemkot Semarang juga menggandeng berbagai pihak, mulai dari perbankan, hotel, hingga lembaga swadaya masyarakat untuk mendukung penguatan ekonomi tersebut.
“Tidak hanya bantuan sesaat, kami ingin menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan. Perempuan harus bisa mandiri dan memiliki akses pasar yang jelas,” katanya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
