“Tujuan akhir dari program ini adalah terciptanya perluasan kesempatan kerja seiring dengan berkembang dan membesarnya usaha para UMK yang mengikuti program. Ketika usaha mereka naik kelas, produktivitas meningkat, omzet bertambah, dan kebutuhan tenaga kerja juga akan semakin besar,” ujar Fikri.
Staf Ahli Bidang Ekonomi Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan, Aris Wahyudi menegaskan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi investasi jangka panjang yang akan menentukan daya saing UMK Indonesia.
Menurutnya, pelaku usaha yang memiliki kemampuan mengelola keuangan dengan baik serta memanfaatkan teknologi digital akan lebih siap menghadapi perubahan pasar dan mampu menciptakan nilai tambah bagi produknya.
Ia menambahkan, keberhasilan sebuah program pelatihan tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan setelah pelatihan selesai.
“Kami berharap para peserta mampu meningkatkan omzet, memperluas jaringan pemasaran, dan membuka peluang usaha baru. Ketika usaha berkembang, akan muncul kebutuhan tenaga kerja tambahan. Inilah efek berantai yang ingin kita ciptakan, yakni peningkatan produktivitas yang bermuara pada terciptanya lapangan kerja dan penguatan ekonomi masyarakat,” jelas Aris.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, serta sektor keuangan menjadi kunci keberhasilan dalam membangun ekosistem UMK yang berkelanjutan. Ia optimistis Digital Camp: “SDM UMK Go Up“ yang diinisiasi BBPVP Semarang dapat menjadi contoh praktik baik (best practice) dalam pengembangan SDM berbasis kebutuhan industri.
“Kami berharap program ini menjadi model yang dapat direplikasi di berbagai daerah sehingga semakin banyak UMK Indonesia yang naik kelas, mampu bersaing di pasar nasional maupun global, sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” ujarnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
