Jumlah Karhutla pada periode Januari-23 Agustus 2026 itu juga jauh lebih tinggi daripada periode yang sama pada tahun 2025. Persentase kenaikannya mencapai sekitar 700%. Tren karhutla pada 2026 meningkat bertepatan dengan masuknya musim kemarau, yakni bulan Juni, Juli, dan Agustus.
Secara rinci, 232 kejadian karhutla tersebut tersebar di 35 kabupaten/kota. Dampak karhutla meliputi 194 hektar luas lahan terbakar, 213 hektare luas hutan terbakar, dan 2,17 hektare luas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang terbakar. Taksiran kerusakan mencapai Rp23 miliar.
Sementara sepuluh daerah dengan total kejadian karhutla tertinggi meliputi Kabupaten Klaten 31 kejadian, Sragen 30 kejadian, dan Sukoharjo 18 kejadian, Wonogiri 17 kejadian, Boyolali 16 kejadian, Blora 14 kejadian, Kabupaten Semarang 13 kejadian, Banyumas 10 kejadian, Kudus 10 kejadian, dan Kota Tegal 8 kejadian.
"Kebakaran lahan didominasi kebakaran lahan pertanian khususnya tebu dan semak belukar. Penyebabnya diduga karena human error, untuk lahan tebu biasanya untuk membersihkan selasar tebu saat panen," ujarnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
