Kisah Warga Timbulsloko Demak, 10 Tahun Lawan Rob Kini Jadi Percontohan Pemulihan Pesisir Pantura

Ahmad Antoni
Desa Timbulsloko yang bertahun-tahun dilanda rob ini resmi menjadi lokasi proyek percontohan atau Deminstration Plotting (Demplot) perlindungan Pantai Utara Jawa berbasis alam (Nature-based Solutions). (foto: istimewa)

Pemerintah desa sebenarnya sudah menyiapkan relokasi untuk warganya. Namun faktor ekonomi membuat warga kembali lagi ke tempat lama. Sebab di tempat baru, banyak warga yang tidak bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan. Meskipun kondisi memprihatinkan terus dialami, masyarakat Desa Timbulsloko beradaptasi dengan caranya sendiri dengan memanfaatkan kondisi alam di sekitar rumahnya.

"Warga bertahan di sini karena masalah ekonomi. Umur 40 tahun kalau kerja bangunan sudah agak loyo, tidak kuat. Kalau mau kerja di pabrik tidak diterima, akhirnya kembali lagi ke sini. Paling tidak tiap hari bisa dapat kerang, udang, atau kepiting dari belakang rumah," katanya.

Selain itu, Pemerintah Desa Timbulsloko juga membuat peraturan desa (Perdes) untuk menjaga lingkungan desanya agar tidak semakin parah. Dalam Perdes tersebut salah satunya terdapat aturan menanam mangrove untuk seluruh warga. Bahkan dalam jangka panjang Timbulsloko ingin dijadikan desa wisata mangrove.

"Warga yang menebang mangrove satu pohon harus tanam 10 pohon baru, kalau ada warga yang menikah menanam 10 pohon, kalau ada ternak yang makan mangrove maka pemiliknya harus tanam 10 pohon. Ini masih berjalan sampai sekarang," jelasnya.

Seorang warga Dukuh Wonorejo, Desa Timbulsloko, Masripah, juga menuturkan hal yang sama. Selama bertahun-tahun tingga di sana, ia sudah beberapa kali harus meninggikan lantai dan rumahnya agar air pasang tidak masuk ke rumah. Hampir semua hasil kerja keras terkadang habis untuk memperbaiki rumah.

"Sudah lama dialami warga sini. Kalau bisa pasang pemecah ombak biar tidak besar sampai sini (daratan). Semoga dengan kegiatan ini dan adanya Giant Sea Wall nanti bisa mengurangi rob," ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Ahmad Luthfi, mengatakan, penanaman mangrove menjadi salah satu langkah pencegahan untuk mengurangi dampak abrasi dan banjir rob yang selama ini mengancam pesisir Jawa Tengah, terutama di pesisir utara (Pantura).

Editor : Ahmad Antoni

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network