Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 10 Fakta Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta, Nomor 4 Keji dan Tak Manusiawi
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Pergolakan Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta usai Perang Diponegoro

Minggu, 22 Desember 2024 | 10:08 WIB
  • author Avirista Midaada
Kisah Pergolakan Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta usai Perang Diponegoro
Kondisi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya belum kondusif usai Perang Diponegoro. (ilustrasi/Ist)

Melansir "Sejarah Nasional Indonesia IV : Kemunculan Penjajahan di Indonesia", penghasilan para bangsawan dan para pejabat kesultanan lainnya pun juga diatur oleh pemerintahan Hindia-Belanda. Keadaan sempat bergejolak karena sejumlah bangsawan tidak puas.

Keadaan di Yogyakarta baru tenang kembali setelah Pangeran Mangkudiningrat dan Pangeran Prabuningrat pada tahun 1831 ditangkap dan dibuang, karena kedua pangeran ini dicurigai akan berusaha mengadakan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Di Surakarta, Sunan Paku Buwono IV diam-diam meninggalkan Istana pada bulan Juni 1830, tetapi segera dikejar dan berhasil ditawan di Mancingan. Oleh karena itu, Sunan ini dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda ke Ambon. Sebagai gantinya diangkat Pangeran Purboyo dengan gelar Sunan Paku Buwono VII.

Selanjutnya, untuk mempertegas batas-batas negara Yogyakarta dan Surakarta, pada tanggal 27 September 1830 diadakan persetujuan dengan Belanda yang isinya menentukan bahwa Sunan Surakarta menguasai Palang dan Sukowati. Sedangkan Sultan Yogyakarta akan memerintah daerah Mataram dan Gunung Kidul.
 

Editor: Ahmad Antoni

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut