Sejarah Ketupat Lebaran, Berikut Makna dan Filosofinya

JAKARTA, iNewsSemarang.id – Sejarah ketupat lebaran berut makna dan filosofinya yang perlu diketahui umat Muslim yang sedang merayakan Idul Fitri 1446 Hijriah.
Ketupat menjadi salah satu hidangan khas yang tak pernah terlewatkan saat Idul Fitri tiba. Di balik anyaman daun kelapa dan bentuknya yang unik, ketupat ternyata menyimpan filosofi dan makna mendalam yang mencerminkan makna Idul Fitri bagi umat Muslim.
Dari simbolisasi kesucian hingga lambang kebersamaan, ketupat menjadi bagian tak terpisahkan dalam tradisi Lebaran di Indonesia.
Asal usul ketupat dimulai sejak masa hidup Sunan Kalijaga, yaitu pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga sendiri ialah seorang Wali Songo yang turut menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.
Tak hanya itu lebaran ketupat dulunya dirayakan pada satu mingu setelah Idul Fitri, yakni 8 Syawal setelah melaksanakan puasa sunnah selama enam hari.
Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya dan filosofi dari pembauran antara Jawa dan nilai-nilai Islam. Ketupat bukan sekedar hidangan hari raya, namun memiliki makna filosofis seperti berikut ini.
1. Dibuat dari Janur Kuning
Kebanyakan ketupat dibuat dengan janur kuning, walaupun sesekali ada juga yang membuat dengan daun kelapa yang sudah agak tua. Menurut cerita orang terdahulu janur kuning merupakan perlambangan balak, dengan demikian penggunaan janur kuning dalam membuat ketupat atau dalam hajatan dipercaya dapat memperoleh berkah dari Allah.
2. Bentuk Empat Sudut Melambangkan 4 Penjuru Mata Angin
Ketupat dengan bentuk segi empat memiliki makna filosofis yang mendalam, yaitu melambangkan empat penjuru mata angin. Dahulu, bentuk ini menjadi ciri khas ketupat, namun kini variasi bentuknya semakin beragam.
Editor : Ahmad Antoni