Sejarah Ketupat Lebaran, Berikut Makna dan Filosofinya

Konsep segi empat tersebut juga menggambarkan filosofi ‘kiblat papat limo pancer’, yakni empat arah mata angin dengan satu pusat, yang mencerminkan keseimbangan alam. Dalam konteks religius, bentuk ini mengajarkan bahwa ke mana pun manusia melangkah, pada akhirnya tujuannya tetap satu, yaitu menuju Allah.
3. Pola Anyaman Melambangkan Kesalahan dan Dosa
Anyaman janur kuning pada ketupat juga mengandung makna filosofis yang mendalam. Bagi masyarakat Jawa, pola anyaman ini melambangkan kesalahan dan dosa yang dilakukan manusia.
Secara religius, manusia memang tidak luput dari kekhilafan. Ketika ketupat dibelah, bagian dalamnya yang berwarna putih melambangkan kesucian dan kebersihan. Dalam tradisi Lebaran, kesucian ini hanya dapat dicapai setelah menjalani ibadah dengan penuh keikhlasan selama bulan Ramadhan.
4. Beras Melambangkan Hati Bersih dan Jiwa Suci
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, beras memiliki makna istimewa sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Dalam ketupat, beras melambangkan bahwa setelah seseorang berhasil membersihkan hati dan jiwanya dari empat jenis nafsu, ia akan mencapai kesejahteraan.
Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa kemakmuran dan kesejahteraan suatu masyarakat hanya dapat terwujud jika individu-individu di dalamnya memiliki hati yang bersih dan jiwa yang suci.
Editor : Ahmad Antoni