get app
inews
Aa Text
Read Next : 25.000 Penari Dug Dug Der Semarangan Pecahkan Rekor Dunia

Cerita di Balik Penciptaan Rekor Dunia Tari Kolosal dengan Peserta 1.550 Penari Kipas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 19:52 WIB
header img
Paulus Pangka menyerahkan piagam penghargaan Leprid kepada Kombes Pol Tri Suhartanto di Semarang, Sabtu (2/5/2026). Penghargaan juga diberikan kepada Heru Mataya dan Dinas Pariwisata Pemkot Surakarta. (foto: iNewsSemarang.id)

“Kami dari Museum Gubug Wayang memaknai keterlibatan ini sebagai bagian dari komitmen untuk terus menjaga dan menghidupkan budaya. Bagi kami, budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga fondasi untuk membangun masa depan,” ujar Tri Suhartanto. 

“Oleh karena itu, penghargaan ini bukan kami tempatkan sebagai titik akhir, melainkan sebagai amanah untuk terus berkontribusi, menguatkan peran budaya, menjangkau generasi muda, dan memastikan bahwa nilai-nilai luhur bangsa tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujarnya.

Sementara, Heru Mataya menjelaskan bahwa Solo Menari 2026 ini produk setiap tahun. Tahun ini mengambil tema kipas karena memang kipas di Indonesia cukup kuat dari Sabang sampai Merauke sebagai suatu upacara, kegiatan tari dan sebagainya.

“Tapi yang menarik, sebenarnya ini pertama kali satu festival yang menjadikan kipas sebagai tema di Indonesia. Ternyata kondisinya para pembuat kipas di Nusantara semakin lama semakin tergerus sebenarnya. Di Jawa Tengah ada di Polanharjo, di DIY ada di Bantul, sebenarnya di desa-desa itu kalau tidak ada pelestarian nanti juga akan punah,” ujar Heru.

“Festival ini sebenarnya mencoba bagaimana Solo Menari bisa menjadi ruang untuk melestarikan sekaligus mengkreasikan. Jadi di acara Solo Menari 2026 itu selain ada tari kolosal, ada pameran, workshop, pasar festival hingga pertunjukan,” imbuhnya.

Dia menyebutkan ada 70 grup se-Indonesia untuk menarikan kipas secara tradisi maupun kontemporer. “Untuk menari kolosal sendiri kita memang mengadakan open call, kalau pesertanya 1.550 mungkin 700 orang dari Soloraya, yang 800 se Indonesia. Jadi pesertanya bukan hanya dari Solo tapi se Indonesia. Mereka mendaftar kita kasih tutorial untuk menarinya, kita ajak ke Solo untuk latihan selama dua kali,” sebut Heru.

“Penarinya dari usia 4 tahun sampai 84 tahun, kita juga memberikan kesempatan teman-teman disabilitas ada 72 dari beberapa SLB di Solo. Yang menarik salah satu grup utamanya dari penyintas kanker ada 24 orang.  Mungkin 60 persen bukan dari penari, melainkan dari PNS, buruh hingga guru,” ujarnya.

Menurutnya, Solo Menari 2026 sebenarnya selain untuk melestarikan kipas nusantara, juga memberikan kesempatan sebagi panggung inklusi, panggung semua orang.

Sebelumnya, Ketua Umum dan Pendiri Leprid sangat mengapreasi penciptaan rekor dunia tari kolosal Aku Kipas dengan peserta 1.550 penari kipas di ajang Solo Menari 2026 dalam peringatan Hari Tari Sedunia.

“Dengan menari kipas mengajak generasi muda peduli budaya seni dan juga ekonomi kreatif. Karena kipas ini dibuat secara khusus dengan cara yang unik, bambu atau kain,” kata Paulus.

“Uri-uri budaya ini harus kita dukung. Kegiatan ini menyatukan berbagai unsur kehidupan SARA. Intinya bahwa budaya itu menyatukan bangsa,” katanya.

Editor : Ahmad Antoni

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut