Kisah Anak Buruh Serabutan, Hampir Putus Sekolah Kini Bisa Belajar di Sekolah Kemitraan Pemprov
Kisah yang sama juga terlihat di SMA Laboratorium Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Vanesha Angelina, putri seorang buruh, mengaku program Sekolah Kemitraan tersebut meringankan beban keluarganya.
"Kalau tidak ada program ini, orang tua pasti lebih terbebani karena kebutuhan lain juga banyak," kata Vanesha di sekolahnya.
Siswa SMA Laboratorium UPGRIS lain, Maulida Dewi Novi Yanti mengatakan bisa bersekolah gratis melalui Sekolah Kemitraan. Dia merasa terbantu dengan program tersebut.
"Sekolah Kemitraan itu gratis. Saya terbantu sekali. Terima kasih Pak Gubernur, akhirnya saya bisa sekolah gratis di sini," kata Maulida, di salah satu ruang laboratorium sekolahnya.
Kepala SMA Laboratorium UPGRIS, Nor Khoiriyah, menyebut ada sejumlah siswa yang sempat berada di ambang putus sekolah, sebelum akhirnya diterima melalui jalur Sekolah Kemitraan Pemprov Jateng.
"Dengan adanya program ini, anak-anak yang tadinya hampir putus sekolah, akhirnya bisa tetap belajar sampai sekarang," jelasnya.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengatakan, pihaknya memaksimalkan program Sekolah Kemitraan bagi anak dengan ekonomi kurang mampu. "Minimal tiap tahun 5.000 anak miskin ekstrem harus dientaskan," sebutnya.
Sebagai informasi, Pemprov Jateng memfasilitasi siswa dari keluarga miskin, dengan program Sekolah Kemitraan. Ini merupakan program agar siswa bisa sekolah gratis di SMA maupun SMK swasta. Tahun ini, ada 139 sekolah yang tergabung dalam Sekolah Kemitraan dengan kuota 5.004 anak.
Editor : Ahmad Antoni