Sakina menilai, pemerataan investasi di kawasan pantura dan sekitar kawasan industri strategis mulai terlihat.
“Kendal, Batang, dan Demak menjadi bukti bahwa pengembangan kawasan industri terintegrasi mampu menarik investor besar sekaligus membuka lapangan kerja,” katanya, Selasa (19/1).
Dijelaskan, berdasarkan sektor usaha, lima besar realisasi investasi Jawa Tengah 2025 didominasi industri pengolahan, yakni, industri barang dari kulit dan alas kaki senilai Rp 11,37 triliun.
Kemudian industri mesin, elektronik, dan peralatan presisi Rp 9,70 triliun, industri karet dan plastik Rp 8,96 triliun. Lalu industri tekstil mencapai Rp 7,97 triliun, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp 7,47 triliun.
Menurut Sakina, dominasi sektor manufaktur memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai basis industri nasional.
“Ini sejalan dengan strategi kami mendorong hilirisasi dan industri padat karya. Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dijelaskan, dari sisi negara asal PMA, lima besar penanam modal di Jawa Tengah pada 2025 adalah Hong Kong senilai Rp 12,92 triliun, lalu Singapura Rp 11,43 triliun, Republik Rakyat Tiongkok Rp 10,13 triliun, Korea Selatan Rp 4,96 triliun, dan Samoa Barat Rp 2,96 triliun.
Sakina menambahkan, realisasi investasi sektor Usaha Kecil dan Mikro (UMK) di Jawa Tengah pada 2025 mencapai Rp 22,143 triliun. Nilai tersebut terdiri atas investasi Usaha Kecil sebesar Rp 7,929 triliun dan Usaha Mikro Rp 14,214 triliun.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 12 persen dibandingkan 2024, di mana realisasi investasi UMK tercatat sebesar Rp 21,52 triliun.
Dengan perolehan capaian investasi 2025 yang tinggi tersebut, pemerintah provinsi akan terus menjaga kepercayaan investor asing dan domestik.
“Kami pastikan stabilitas daerah, kepastian regulasi, serta sinergi lintas sektor tetap terjaga. Target kami, Jawa Tengah menjadi gerbang investasi utama di Indonesia,” ungkapnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
